Page 27 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 27

adalah gawir yang membentuk raut dari usia tak masuk akal.
               Dahinya bertajuk. Hidungnya tinggi dan meleleh di kanan kiri.
               Dagunya  rapuh,  rahang  yang  telah  kehilangan  geligi.  Dialah
               si  Batu  Bernyanyi  bagi  kami.  Jika  senja  tiba,  ia  menegaskan
               siluetnya.  Seorang  Indian  tua  yang  menyanyikan  lagu­lagu
               menyayat  hati  tentang  keturunan  mereka  yang  kehilangan
               tanah  nenek  moyang.  Ketika  malam  turun  sepenuhnya,  ia
               menghilang dalam kegelapan. Tapi jika bulan sidi seperti ma­
               lam ini, dari kejauhan orang masih bisa melihat bayangannya.
                   Orang desa di kakinya tidak memberi dia nama yang ber­
               hubungan  dengan  lolongannya.  Bangsa  debil  berwajah  datar
               itu menamai bukit besar ini Watugunung, sebuah nama yang
               niscaya  sehingga  tidak  kami  anggap  sebagai  nama.  Watu­
               gunung. Gunung batu. Dengan sendirinya.
                   Lubang  kesayangan  yang  kunamai  Sebul  ada  di  sekitar
               hidung. Aku belum pernah mencapainya. Aku hanya melihat­
               nya  lewat  lensa  teropong.  Ia  adalah  lubang  tembus  yang
               panjangnya  pun  serupa  fu,  atau  kira­kira  sepotongan  lengan
               orang dewasa. Diameter liangnya juga setara alat musik tiup.
               Jika angin stabil, siulannya rendah dan berwibawa. Jika angin
               meliuk­liuk,  Sebul  berdesis  ular  marah.  Ia  biasa  membisik
               ganas di malam hari, dalam kegelapan. Sebentuk raut muncul
               dari dalam liang itu dengan taring yang sesekali mengilaukan
               pantulan bulan. Ia memiliki kepala serigala betina pada torso
               wanita. Ia memiliki buah dada dan lekuk pinggul yang indah,
               dan ia berkaki anjing jantan. Ia jejulurkan kepala itu dengan
               lentur leher hiena.
                   Ia  berada  jauh  di  atas  portaletku  sekarang.  Tapi  angin
               menyebulkan  dirinya  pada  baringku.  Semalam  sedikit  topan
               sehingga Sebul mengeluarkan segala suara. Ia melolong mau­
               pun menggumam rendah. Ia berbangkis marah sebelum kem­
               bali  menyiulkan  bunyi  fu  yang  pelan­pelan  lenyap  ditelan
               pagi. Ia mewahyukan bagiku sebuah nubuat yang aku belum


             1
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32