Page 30 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 30
tungkainya serigala jantan. Aku tak perlu membuka mata untuk
mengetahui itu. Aku jatuh cinta. Ia merundukkan wajahnya
ke wajahku. Maka bisa kurasakan nafasnya yang panas dan
susunya yang tumpah di leherku. Suraisurainya menggelitik.
Ia bergoyanggoyang sebentar sebelum berhenti lalu tertawa
seperti seorang perempuan yang puas atas persetubuhan.
(Ketika sadar nanti, aku menemukan ceceran mani pada perut
ku.) Ia memanggil namaku. Yuda. Yuda… nama yang bagus.
Ia merayu sambil mengendus.
“Aku datang untuk menjawab tekateki tololmu yang kau
sendiri tak bisa jawab.” Ia berkata dengan suara yang masuk
melalui dasar leherku. Aku masih bisa merasakannya sampai
sekarang. Suara itu tidak melalui telingaku, melainkan meng
getarkan pita suaraku, seolah bersatu dengan milikku sendiri.
1 : a = 1 × a = 1; dan a bukan 1. Bilangan apakah a?
“Bilangan itu adalah…” Sambil mengatakannya Sebul
menggambar angka pada angin. Sebuah bilangan yang pada
saat itu langsung kumengerti dengan terangbenderang.
Aku merasakan pencerahan yang instan, seperti kegem
biraan atas terang ketika lampu menyala kembali setelah
beberapa jam dalam gelap gulita listrik padam. Aku menjerit
dalam hati, “Tolol betul! Bagaimana mungkin aku tidak bisa
menemukannya sendiri dari semalam!” Kini Sebul nan cantik
seram menyingkapkannya kepadaku.
Ia menyeringai dan mendesis.
“Bilangan itu bernama fu…”
Tepat pada bunyi fu aku terjaga. Aku terlepas dari tindihan
yang menimpaku. Badanku jadi terlampau ringan sehingga aku
terbangkit. Mataku terbuka dan kulihat angin terakhir pergi,
bersama sisa bunyi fu yang masih menggema di kepala. Aku
melihat ekornya. Ekor bilangan itu. Garisgaris bening seperti
lekukan udara pada panas fatamorgana. Garisgaris bening
21