Page 29 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 29

terganggu.  Kita  tidak  bisa  memerintahkan  tangan,  kaki,  pita
               suara,  atau  apapun  untuk  bergerak.  Kita  mengalami  sedikit
               halusinasi. Orang tradisional menyebutnya “ketindihan”, yaitu
               ketindihan makhluk gaib. Ada badan halus yang menunggang
               pada kita sehingga kita tak bisa bahkan untuk membuka mata.
               Ia menindih kita dan melakukan hal­hal yang ia mau lakukan
               pada  kita.  Orang­orang  tradisional  percaya  bahwa  makhluk­
               makhluk itu bisa mencekik korbannya hingga mati.
                   Ada banyak cara untuk mati, memang. Aku beberapa kali
               mengalami  tindihan,  tapi  aku  percaya  bahwa  aku  tidak  akan
               mati oleh makhluk halus yang menumpak pada tubuhku. Aku
               yakin.  Sebab  aku  adalah  orang  terpilih,  yang  tak  akan  mati
               karena alasan demikian pandir. Aku memiliki disiplinku, aku
               melakukan patiragaku, kujauhkan diri dari peradaban modern
               yang hanya memberi rangsangan­rangsangan permukaan. Para
               lelaki tambun dan gelojoh perkotaan itulah yang potensial mati
               ketindihan.  Mereka  ditemukan  biru  dan  tak  bernafas  di  pagi
               hari  oleh  istri  yang  malang—yang  sebetulnya  telah  malang
               sepanjang hidup pernikahan mereka. Dokter menyatakan bah­
               wa  sang  suami  terkena  darah  tinggi  atau  serangan  jantung.
               Mertua si istri malang percaya bahwa putranya mati ketindihan
               oleh makhluk kiriman lawan bisnis. Orang lembek seperti ini­
               lah yang bisa mati ketindihan. Aku, kalaupun mati ketindihan,
               mestilah bukan oleh makhluk halus, melainkan oleh batu­batu
               gunung yang lebih besar daripada yang menimpa kelingking si
               Fulan. Dan itu akan menjadi harga yang tak akan kusesali.
                   Maka,  pada  dini  hari  yang  dingin  itu,  menjelang  angin
               berhenti  meniupi  tebing,  aku    mengalami  ketindihan.  Dalam
               halusinasi  mata  tertutup  aku  terjaga  dan  menemukan  Sebul
               telah  duduk  di  atas  tubuhku  dengan  kaki  terbuka.  Selang­
               kangannya pada selangkanganku. Wajahnya jakal betina sang
               dewa  Mesir  kuno.  Tubuhnya  wanita,  berwarna  pasir  bijih
               tembaga,  dan  pinggangnya  seramping  milik  anjing.  Namun


             20
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34