Page 28 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 28

mengerti  sementara  aku  menggigil  pada  papan  tidurku  yang
                 berayun­ayun.
                     Pagi  harinya  ia  telah  tenang  kembali,  seperti  seorang
                 istri  yang  berselingkuh  denganku  secara  binal  satu  malam
                 dan  esoknya  berlagu  seolah  tak  kenal.  Aku  selalu  berterima
                 kasih, juga pada keindahan semalam yang diberikan seorang
                 wanita. Aku tak menuntut lebih dari itu. Terutama karena aku
                 lebih  ingin  menghabiskan  waktu  di  tebing­tebing  ketimbang
                 memenuhi harapan tersembunyi mereka tentang rumah yang
                 aman bagi anak­anak. Aku selalu bersyukur jika wanita berse­
                 dia  menyetubuhi  aku  satu  hari  dan  mencampakkan  aku  hari
                 berikutnya,  atau  mengenangku  sebagai  sekadar  petualangan
                 sebelum  ia  menikah  dan  menjadi  istri  baik­baik.  Aku  pun
                 akan mengenang mereka dari jauh, dari ketinggian. Mereka di
                 permukaan tanah, di dalam jeratan sarang lelaba cahaya yang
                 membungkus  bagai  kepompong  sebuah  rumah  (percayalah,
                 tanpa jaring laba­laba listrik itu rumah tersebut niscaya begitu
                 suram), di dalamnya ada kepulangan suami yang dinanti setiap
                 sore  (yang  semakin  tua  usia  pernikahan  semakin  larut  lelaki
                 tambun itu pulang), ada anak­anak yang berlarian di halaman
                 seperti  lagu  lama  Obladi­Oblada.  Aku  di  ketinggian,  yang
                 kemewahannya  adalah  mendengarkan  siulan  gaib  Sebul.  Ya,
                 musik  gaibnya,  yang  bahkan  suku  bangsa  yang  membangun
                 desa di kaki tebing pun tak tahu. Bagiku, siulan Sebul adalah
                 wahyu,  yaitu  pengetahuan  rahasia  yang  diungkapkan  setelah
                 engkau  menjalani  sebuah  ujian  dan  disiplin.  Setelah  engkau
                 menunjukkan bahwa engkau adalah manusia terpilih.
                     Tapi, sebelum Sebul menjadi tenang sama sekali bersama
                 terbit  matahari, ia  meninggalkan  aku  manakala masih  gelap.
                 Dengan  cara  yang  sangat  nakal.  Aku  mengalami  apa  yang
                 disebut orang Jawa sebagai “tindihan” atau “ketindihan”. Ke­
                 adaan  yang  biasanya  terjadi  di  ambang  tidur,  di  mana  otak
                 tak bisa memerintahkan saraf­saraf, dan kesadaran kita agak


                                                                        1
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33