Page 35 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 35
Setelah kurenungkan masa itu, barangkali kami adalah
anakanak kota yang benci pada kesemenjanaan yang me
lahirkan kami. Mediokritas dan kedangkalan, yang datang
bersama listrik. Betul, tuan. Listrik. Aku benci makhluk ini.
Dialah yang membuat televisi menyala. Kau tahu bagaimana
televisi memborbardir kita dengan jeritan hahahihi kakakikik
pembawa acara ataupun kuntilanak (apa beda keduanya?),
rintihan perempuan sinetron (sebagian dari mereka akan
menjadi kuntilanak juga, setelah diperkosa, dihamili, dan
dibunuh—untunglah, atau semoga, hanya dalam sinetron;
demikianlah cara kuntilanak direproduksi), khotbah para dai
yang akan membebaskan para kuntilanak itu dari dendam
pribadi sehingga bertobatlah mereka dan lapanglah jalan bagi
mereka ke alam baka, yang berselangseling dengan hahahihi
kakakikik iklan yang diulang tiga kali. Kuntilanak lagi! Suara
suara demikian ini kok membius para pembantu, ibu rumah
tangga, sekretaris, petugas kasir bank, budak kantor, penjaga
toko, pasien dalam antrian, bahkan tukang copet yang sedang
cuti.
Dan, ya tuhan, mereka sungguhsungguh bisa tertawa jika
pembawa acara memerintahkan mereka untuk tertawa. Per
cayalah, pembawa acara itu sama sekali tidak melucu, apalagi
lucu. Ia hanya memerintahkan penonton untuk tertawa. Dan
mereka menurut. Orangorang yang menghadap televisi itu juga
sungguhsungguh bermuka sedih jika diperintahkan untuk ber
duka oleh televisi. Ketika remaja aku telah mencoba menonton
televisi, baik dari depan maupun dari belakang. Keduaduanya
menampakkan adegan kebodohan yang sama mengerikan.
Maka aku berhenti menonton tivi.
Maafkan. Aku ngelantur. Tapi, pada usia awal duapuluh
itu pikiranku pun pendek dan karena kependekan pikiran
itulah aku membenci televisi secara sempit, listrik secara lebih
luas, dan kota secara lebih luas lagi. Suara televisi itu sungguh
2