Page 40 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 40

bangun  sebuah  liang  jebakan  yang  berakhir  di  mulutnya!
                 Liang itu dibuatnya sedemikian rupa. Hangat, basah, lembut
                 sekaligus kuat, sehingga si moluska anjing gila bisa memben­
                 tur­benturkan  kepala  tanpa  terluka.  Tentu  saja  memar  akan
                 tetap  terjadi  dan  membekas  setelah  ribuan  kali,  tapi  ini  tak
                 berarti apa­apa dibanding kelegaan yang diperoleh si hewan:
                 anjing gila itu bisa kembali menjadi moluska.
                     Kita, kaum Adam, adalah alat si moluska tolol. Perempuan,
                 maksud  saya  apa  yang  kita  lihat  sebagai  wujud  perempuan,
                 adalah medium si ubur­ubur cerdik. Kita lebih beruntung dari­
                 pada perempuan, karena monster tolol pada kita itu dapat kita
                 lihat. Ya, karena dia tolol, maka dia tak bisa sembunyi. Karena
                 dia  begitu  kelihatan,  maka  kita  tahu  bahwa  kita  harus  ber­
                 hati­hati.  Tapi  malanglah  perempuan.  Mereka  diperalat  oleh
                 makhluk yang cerdik, yang tahu bahwa untuk bisa menguasai
                 korban secara telak, si makhluk harus tak terlihat. Ia menyusup
                 ke dalam dan memberi perintah tanpa disadari korban.
                     Dan perempuan pun (hmm, betapa indah torso dan buah
                 dada mereka), sebagai boneka dari si monster gelembung, di­
                 manipulasi untuk membutuhkan pria. Mereka membutuhkan
                 kita  sebab  mereka  membutuhkan  makanan  pemicu—setetes
                 otak kempal—bagi sang monster agar makhluk itu bisa mulai
                 menggembung.  Lalu  mereka  membutuhkan  logistik  sebab
                 monster  itu  tak  terbendung  lagi:  ia  menggelembungkan  diri
                 dengan cara yang mengerikan; yaitu makan dari tulang, ram­
                 but, dan kuku si perempuan. Apa yang dilakukan monster itu
                 sesungguhnya? Dia sedang menguleni boneka baru! Dia sedang
                 membuat mainan. Dan setelah sekitar sembilan bulan, boneka
                 itu pun jadilah. Apa yang kita sebut sebagai bayi.
                     Dan,  ah  ya,  kita  bangga  bahwa  kita  dibutuhkan  perem­
                 puan.  Kita  bangga  ketika  boneka  itu  lahir.  Kita  mengiranya
                 anak dari benih kita. Padahal monster itulah yang merencana­
                 kan  semua  ini.  Dia  sungguh  manipulatif,  terutama  dengan


                                                                        31
   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45