Page 36 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 36
mengganggu. Tapi, di semua rumah yang kumasuki, termasuk
rumahku sendiri, atau tepatnya rumah orangtuaku sebab aku
belum memiliki rumah, orangorang tak bisa hidup tanpa
televisi. Ya, orangorang tak bisa hidup tanpa televisi. Anehnya,
mereka juga tak bisa tidur tanpa televisi. Ditonton atau tidak,
televisi selalu menyala. Aku menjadi ganjil bagi keluargaku
karena aku tak bisa hidup ataupun tidur dengan televisi.
Keterasingan inilah yang menyebabkan aku mencari dunia
yang lain. Aku pergi ke alam, atau yang pada waktu itu kami
kira alam. Ke tebingtebing, di mana listrik tak menjangkauku.
Sayangnya—kini aku sedikit menyesali—rupanya kami
tetaplah anak muda kota dengan tabiat khasnya. Kami tak me
nyadari bahwa rasa unggul membuat kami tuli dari dongeng
dongeng desa. Yang kami pikirkan hanyalah menaklukkan
tantangan dengan memerawani tebingtebing mustahil. Pada
masa itu, tak pernah kami menggali dongengdongeng desa.
Kami hanya bicara secukupnya dengan penduduk ketika be
lanja atau jajan di warung mereka. Bagi kami telur lebih
menarik daripada cerita. Telur berbentuk dan bergizi. Cerita
mereka tidak berbentuk dan tidak bergizi. Lagipula, mereka tak
tertarik pada tebing sebagaimana kami, padahal mereka tinggal
di kakinya. Kalaupun ada yang mendaki punggung gunung
hingga jauh, mereka mencari kayu bakar, menebang jati, atau
malah membakar kemenyan di muka sebuah pohon besar
(bagaimana mereka bisa tahu itu mukanya?).
Aku tak bisa menganggap serius orangorang begini. Ka
rena itu, sangat masuk akal jika kami tak pernah mendengar
tentang misteri rangkaian kematian kambingkambing dengan
simptom serangan drakula. Besar kemungkinan, salah satu di
antara kami mendengarnya. Tapi ia menganggapnya sedegil si
netron televisi. Terlalu pandir untuk menghabiskan energi yang
dibutuhkan untuk menaklukkan gunung batu. Maka cerita
itu tak pernah sampai ke telinga kami pada waktu terjadinya.
2