Page 38 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 38

Itulah hari ketika kami memutuskan untuk menghentikan
                 sementara  pemanjatan.  Kami  kehabisan  kuping  gantungan
                 dan mata bor lantaran si Pete memasang penambat setiap satu
                 meter.  Bagiku  ia  terlalu  main  aman,  sebuah  ungkapan  lain
                 untuk penakut. Tangannya pun tidak trampil sehingga peker­
                 jaannya  banyak  gagal  dan  paku­paku  lesap  ke  dalam  celah,
                 bahkan tebing itu menjadi rumpal. Aku menganggap Pete “cari
                 aman”, sementara dia anggap aku “cari bahaya”.
                     Akibat rasa jengkel yang tak bisa kuungkapkan (kami ber­
                 sumpah  hanya  mengajukan  cerca  dalam  evaluasi  akhir),  aku
                 mengajukan  diri  sebagai  orang  yang  pergi  membeli  perleng­
                 kapan dan tambahan logistik.
                     “Siapa yang menemani?” seseorang bertanya.
                     “Terserah! Sendiri juga oke.” Aku menjawab dengan nada
                 perintah.  Sebelas  temanku  pun  tahu  bahwa  energiku  sedang
                 tak baik untuk ditemani.
                     Secepat  mungkin  aku  meninggalkan  perkemahan,  turun
                 ke  tempat  Landroverku  terparkir,  dan  melarikan  si  kuning
                 ke  jalan  raya.  Dengan  kecepatan  rata­rata  sembilanpuluh,
                 butuh lima sampai enam jam untuk tiba di Bandung, tempat
                 langganan kami menyediakan peralatan panjat dengan harga
                 murah. Aku akan bermalam di kotaku sambil sekalian mem­
                 beli  bahan  makanan  dan  kembali  esok  hari.  Karena  itulah
                 barangkali aku kehilangan cerita tentang simptom vampir pada
                 kambing­kambing di kaki Watugunung. (Ketika itu kami lebih
                 suka menyebutnya Batu Bernyanyi, nama yang kami berikan
                 sendiri berdasarkan sifat gunung itu, bukan tampakannya).


                     Si Fulan, mantan pemanjat tebing yang kelingkingnya ku­
                 simpan dalam botol selai itu, kini telah menjadi langgananku
                 di  Bandung.  Ia  terpaksa  pensiun  karena  menikah  dan  harus
                 menghidupi  istri­anak.  Kini  ia  membangun  kalsium  keluar­
                 ga  dari  hasil  berjualan  alat­alat  olah  raga  petualangan  dan


                                                                        2
   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43