Page 43 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 43

satu  vas  bunga  plastik  (yang  tak  akan  layu)  serta  asbak  dari
               selongsong  peluru  (hadiah  setelah  ia  mengajar  panjat  tebing
               pada  sebuah  korps  militer).  Teman  lamaku  telah  menjadi
               manusia kebanyakan. Ia telah menjadi bapak yang baik. Kepala
               rumah tangga yang bertanggung jawab.
                   Satria telah menjadi sudra.
                   Segera  aku  mencari  tanda­tanda  kemenanganku.  Jeritan
               televisi  dari  ruang  berikut  tanpa  malu  menunjukkan  urusan
               rumah  tangga  mereka.  Telah  jelas  siapa  pemenang  siapa  pe­
               cundang dalam rumah ini. Suara bocah menirukan iklan obat
               batuk,  ya,  yang  diulang  tiga  kali.  Denting  telepon  dan  suara
               perempuan  yang  mengatakan  bahwa  ia  sedang  sibuk  nonton
               sinetron—“Ntar aja telepon lagi, ya?” Suara “Papa! Papa!”, lalu
               bocah yang sama menirukan iklan yang sama dengan bangga
               dan merasa lucu.
                   Temanku muncul dari balik tirai kerang lintingan kalen­
               der.  Ia  menyapaku  dengan  suara  girang,  matanya  berbinar
               seperti melihat masa lalu yang jaya. Lalu tiba­tiba semua itu
               padam.  Ia  menyadari  kekalahannya.  Ia  menoleh  ke  ruang
               dalam, tampaknya kepada istrinya, dan berkata dengan suara
               lembut. “Ma, jangan keras­keras dong setel… itunya.”
                   Haha. Ia bahkan tak berani menyebut kata “tivi”.
                   “Apa kabar, Papa?” sapaku penuh kemenangan.
                   “Ya, ya, ya. Gue kalah.” katanya separuh jengkel separuh
               kangen.
                   “Kalau gitu, aku mau ambil jatahku. Lagi butuh nih.”
                   Pada saat itu, tiba­tiba dari belakangnya muncul seorang
               pemuda. Tampak seusia si Fulan, tiga tahunan lebih tua dari
               aku. Agaknya ia juga datang untuk membeli beberapa perleng­
               kapan outdor. Sebelum kawanku sempat memperkenalkan dia
               kepadaku,  istrinya  terdengar  mengatakan  sesuatu,  agaknya
               sejenis  keluhan  atau  pengaduan,  sehingga  ia  masuk  lagi  ke
               ruang dalam.


             3
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48