Page 42 - Bilangan Fu by Ayu Utami
P. 42

Aku tak minta kelingking kali ini. Aku hanya minta jatah
                 peralatan panjat gratis manakala aku butuh.


                     Selamat!  Hari  ini  ia  akan  melihat  aku  seperti  melihat
                 seorang penagih utang.
                     Aku tiba di kontrakannya yang baru di Cikapundung yang
                 padat.  Seorang  pembantu  mempersilakan  aku  masuk.  Ruang
                 tamunya teduh, sedikit lembab. Gambar Ka’bah di musim haji
                 merupakan pemandangan pertama bagi siapapun yang masuk,
                 melalui  pintu  ataupun  jendela.  Aku  mendudukkan  diri  pada
                 sebuah tempat yang disediakan oleh satu stel meja kursi sistem
                 pasang­bongkar.  Ligna  atau  Futura  tiruan  yang  memenuhi
                 ruang,  yang  menyisakan  secukupnya  saja  celah  untuk  kaki.
                 Baik untuk membuat kita bagai duduk dalam bemo. Di dalam
                 bemo itu aku duduk menghadap kota suci, yang lebarnya nyaris
                 memenuhi dinding.
                     Pelan­pelan  aku  menyadari  detil­detil  lain.  Lampu  neon
                 lingkar melekat telanjang di langit­langit. Di tembok kananku
                 terdapat  panel  foto  pemanjat  dunia  Christ  Bonnington  di
                 puncak  Everest.  Potret  kakeknya  itu  dipasang  berdampingan
                 dengan  potret  pernikahan.  Mereka  memakai  adat  Sunda.  Si
                 pengantin  perempuan  dirajut  kembang  melati,  mengenakan
                 make up tebal dengan alis bercabang. Si Fulan lelaki berpupur
                 dan bergincu. Lucu sekali. Di bawah foto kawinan itu tergan­
                 tung foto­foto bayi mereka dari usia yang berbeda. Sebuah pe­
                 rempuan Bali mungil dari kayu, susunya membusung, berdiri
                 dekat pintu ke ruang dalam yang bertetirai kerang­kerangan.
                 Itu,  cangkang­cangkang  siput  laut  yang  diuntai  pada  kenur,
                 sejenis yang bisa kaudapatkan di Parang Tritis atau Pelabuhan
                 Ratu atau Anyer atau semua tempat wisata pinggir laut yang
                 banyak  didatangi  turis  lokal.  Beberapa  cangkangnya  telah
                 hilang  dan  diganti  dengan  lelinting  sayatan  kalender  bekas.
                 Di atas meja terhampar taplak sulaman kristik yang menataki


                                                                        33
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47