Page 27 - Cerita Cinta Enrico by Ayu Utami
P. 27
Ce r i t a Ci n t a E n r i c o
terputus sejak aku terlepas dari perut ibuku. Sebentar lagi zat
asam itu habis, padahal aku belum bernafas. aku hanya akan
bernafas jika aku menangis, tapi aku tidak mau menangis.
lalu, terjadilah pemandangan yang mengerikan ini: Dok-
ter rumah sakit militer itu menyuruh suster menyediakan dua
kuali. Yang pertama berisi air dingin, yang kedua air panas.
Jangan tanya seberapa dingin atau seberapa panas. Dua kuali
mengepul-ngepul itu pun tersedia. Dokter tentara itu men-
jungkir aku dan menggenggamku pada sepasang ceker-ayam-
ku yang malang. Kelak ibuku bilang, aku sungguh seperti
ayam mati yang telah dibului. Dokter tentara itu barangkali
dulu dapat pekerjaan menyiksa tawanan. Ia begitu tega. Ia
mengangkatku tinggi-tinggi, lalu mencelupkan aku—dengan
kepalaku di bawah—ke dalam air dingin. Membenamkan ke-
pala ke dalam air adalah hal yang biasa dilakukan interogator
agar tawanan mengaku. Setelah beberapa saat, ia mengentas-
ku dari kuali air dingin lalu mencelupkan aku dalam air panas
di kuali sebelahnya. Setelah itu ia mengangkatku lagi lalu
menempelengi bokongku. air dingin, air panas, plak-plak. air
dingin, air panas, plak-plak. Sungguh, ia mau meretakkan aku
sepertinya aku ini gelas. Ia adalah seorang interogator kejam,
yang melakukan ini semua sampai sang tawanan mengaku.
Begitulah, setelah beberapa kali dibegitukan, aku akhirnya tak
tahan lagi menutup mulutku, dan aku pun menangis.
Semua orang bertepuk tangan.
ayahku dijemput.
Tapi ibukulah yang menarik pelajaran dari apa yang
dilihatnya. Sebuah pelajaran mengenai sikap hidup.
*
21
Enrico_koreksi2.indd 21 1/24/12 3:03:52 PM