Page 248 - Keterangan Pers Kepala Badan POM dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 di Istana Kepresidenan Jakarta
P. 248
Judul : BPOM: Indonesia Dapat 10 Juta Dosis Vaksin Covid-19 dari
UEA
Nama Media : dream.co.id
Tanggal : 2 September 2020
Halaman/URL : https://www.dream.co.id/news/bpom-indonesia-dapat-10-juta-
dosis-vaksin-covid-19-dari-uea-200902z.html
Tipe Media : Online
Dream - Kepala Badan Pengawas Obat
dan Makanan (BPOM), Penny Lukito,
mengatakan Indonesia akan
mendapatkan 10 juta dosis vaksin
Covid-19 dari Uni Emirat Arab (UEA).
Pengadaan ini menjadi bagian dari
strategi pengembangan vaksin untuk
virus corona tipe SARS-CoV-2 dalam dua jalur, produksi sendiri dan kerja sama
dengan pihak luar.
" Pada 21 Agustus sudah ada kesepakatan Menlu dan Menteri BUMN yang
berkunjung ke Uni Emirat Arab, di mana Uni Emirat Arab berkomitmen menyediakan
10 juta dosis vaksin Covid-19 untuk Indonesia melalui kerja sama G42 UEA dan
Sinopharm dan Kimia Farma," ujar Penny, dikutip dari Liputan6.com.
Penny berharap 10 juta dosis vaksin itu tersedia akhir tahun ini. Penny sudah
melihat langsung pelaksanaan uji klinis tahap III vaksin Covid-19 di UEA dan
memastikan berlangsung dengan sangat baik.
" Kami melihat uji klinis fase III sangat baik dan terorganisir, melibatkan 1.000 dokter.
Kami melihat uji klinik dilakukan dengan validitas yang sangat terjaga," ucap dia.
Sudah Kantongi Sertifikat Halal
Tak hanya itu, Penny mengatakan vaksin Covid-19 dari UEA telah mendapatkan
sertifikat halal. Demikian pula dengan vaksin yang dikembangkan oleh China, juga
mengantongi sertifikat halal.
" Kandidat vaksin Sinopharm juga mendapat emergency use authorization dari
regulator pengawas obat di Republik Rakyat Tiongkok dan pada Juli 2020 sudah
dapat izin Penggunaan emergensi di national medication product administration
berdasarkan uji klinis fase 1 dan 2 dan telah mendapatkan sertifikat halal," kata
Penny.
Lebih lanjut, Penny mengatakan vaksin dari perusahaan asal China, Sinopharm
selesai uji klinis tahap I dan II pada 12 April 2020. Dalam dua uji klinis tersebut, tidak
menunjukkan tanda-tanda efek samping negatif pada manusia.

