Page 61 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Pertama_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 61
dengan al Qur'an dan Sunnah. Bahwa mereka berdalil dengan
firman Allah ta'ala:
) 39 : مجنلا ةريس( ﴾ ٌعس ام ٗإ ناسنٖل سِل نأو ﴿
Ini adalah hal yang tidak tepat dan mesti ditolak karena maksud
ayat ini bukanlah menafikan bahwa seseorang mendapatkan
manfaat dari apa yang dikerjakan oleh orang lain seperti sedekah
dan haji untuk orang yang telah meninggal, melainkan ayat ini
menafikan kepemilikan terhadap amal orang lain. Amal orang lain
adalah milik orang lain yang mengerjakankannya, karena itu jika ia
mau ia bisa memberikan kepada orang lain dan jika tidak ia bisa
memilikinya untuk dirinya sendiri. Allah subhanahu wata'ala tidak
mengatakan tidak bermanfaat bagi seseorang kecuali amalnya
sendiri.
Mereka yang menafikan secara mutlak tersebut adalah
golongan Mu'tazilah. Imam Ahmad ibn Hanbal pernah
mengingkari orang yang membaca al Qur'an di atas kuburan,
namun kemudian sahabat (salah seorang murid dekat)nya
menyampaikan kepadanya atsar dari sebagian sahabat yaitu Ibn
Umar lalu dia ruju' dari pendapatnya tersebut. Al Bayhaqi dalam
as-Sunan al Kubra meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa
Ibn Umar menganggap sunnah setelah mayit dikuburkan untuk
dibacakan awal dan akhir surat al Baqarah. Salah seorang ulama
Madzhab Hanbali, Asy-Syaththi al Hanbali dalam komentarnya
atas kitab Ghayah al Muntaha, hlm. 260 mengatakan : "Dalam al Furu'
dan Tashhih al Furu' dinyatakan : Tidak dimakruhkan membaca al
Qur'an di atas kuburan dan di areal pekuburan, inilah yang
ditegaskan oleh al Imam Ahmad, dan inilah pendapat madzhab
57

