Page 63 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Pertama_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 63

dilakukan oleh orang-orang di masa jahiliyah, mereka yang tidak
               beriman  kepada  akhirat  itu.  Dan  inilah  Niyahah  yang  termasuk
               perbuatan orang-orang di masa jahiliyyah dan dilarang oleh Nabi
               shallallahu 'alayhi wasallam .
                     Jika  tujuannya  bukan  untuk  itu,  melainkan  untuk
               menghormat  tamu  atau  bersedekah  untuk  mayit  dan  meminta
               tolong agar dibacakan al Qur'an untuk mayit maka hal itu boleh
               dan  tidak  terlarang.  Al  Bukhari  meriwayatkan  dalam  Sahih-nya
               dari Ibn 'Abbas bahwa Sa'd ibn 'Ubadah ibunya meninggal ketika
               dia pergi, kemudian ia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alayhi
               wasallam  :  Wahai  Rasulullah,  Ibuku  meninggal  dan  aku  sedang
               tidak berada di tempat tersebut, apakah bermanfa'at baginya jika
               aku menyedekahkan sesuatu untuknya ?, Rasulullah menjawab :
               "Ya", Sa'd berkata : (Kalau begitu) Saya bersaksi kepadamu bahwa
               kebunku yang sedang berbuah itu aku sedekahkan untuknya.

               Tahlilan pada  hari  ke tiga,  ke tujuh,  ke seratus,  ke seribu  dan
               seterusnya

                     Tradisi ummat Islam mengundang para tetangga ke rumah
               mayit kemudian memberi makan mereka ini adalah sedekah yang
               mereka  lakukan  untuk  si  mayit  dan  dalam  rangka  membaca  al
               Qur'an untuk mayit, dan jelas dua hal ini adalah hal yang boleh
               dilakukan. Sedekah untuk mayit jelas dibenarkan oleh hadits Nabi
               dalam  Sahih  al  Bukhari.  Sedangkan  membaca  al  Qur'an  untuk
               mayit,  menurut  mayoritas  para  ulama  salaf  dan  Imam  madzhab
               Hanafi, Maliki dan Hanbali pahalanya akan sampai kepada mayit,
               demikian dijelaskan oleh as-Suyuthi dalam Syarh ash-Shudur dan
               dikutip  serta  disetujui  oleh  al  Hafizh  Murtadla  az-Zabidi  dalam
               Syarh Ihya' 'Ulum ad-Din. Syekh Abdullah al Harari mengatakan :

                                               59
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68