Page 62 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Pertama_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 62

Hanbali. Kemudian sebagian menyatakan hal itu mubah, sebagian
               mengatakan mustahabb (sunnah). Demikian juga disebutkan dalam
               al Iqna'".

               Menghidangkan Makanan untuk orang yang datang ta'ziyah atau
               menghadiri undangan baca al Qur'an

                     Menghidangkan  makanan  yang  dilakukan  oleh  keluarga
               mayit untuk orang yang datang ta'ziyah atau menghadiri undangan
               baca  al  Qur'an  adalah  boleh  karena  itu  termasuk  ikram  adl-Dlayf
               (menghormat  tamu).  Dan  dalam  Islam  ini  adalah  sesuatu  yang
               dianjurkan. Sedangkan Hadits Jarir ibn 'Abdillah al Bajali bahwa ia
               mengatakan :


                        "ةحاِنلا نم هنفد دعب ماعطلا ةعِنصو تِلما لهأ لىإ عامتجٗا دعن انك "

                                                            )    حِحص دنسب دحمأ هاور (



               Maknanya : "Kami di masa Rasulullah menganggap berkumpul di tempat
               mayit  dan  membuat  makanan  setelah  dikuburkannya  mayit  sebagai
               Niyahah  (meratapi  mayit  yang  dilarang  oleh  Islam)"    (H.R.  Ahmad
               dengan sanad yang sahih)

                     Maksudnya  adalah  jika  keluarga  mayit  membuat  makanan
               tersebut untuk dihidangkan  kepada para hadirin dengan tujuan al
               Fakhr  ;  berbangga  diri  supaya  orang  mengatakan  bahwa  mereka
               pemurah dan dermawan  atau makanan tersebut disajikan kepada
               perempuan-perempuan  agar  menjerit-jerit,  meratap  sambil
               menyebutkan kebaikan-kebaikan mayit, karena inilah yang biasa


                                               58
   57   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67