Page 45 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Keempat_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 45
Menghitung Dzikir dengan Jari
Dzikir yang dibaca oleh seseorang jika dihitung dengan
jari-jari tangan kanan itu lebih afdlal. Rasulullah shallallahu
'alayhi wasallam ketika bertasbih beliau menghitungnya dengan
jari-jari tangan kanannya. Ini tidak berarti bahwa menghitung
dzikir dengan sesuatu yang lain tidak boleh, tetapi yang lebih
afdlal memang menghitung dengan jari-jari tangan. Karena
suatu ketika di masa Rasulullah, Shafiyyah; isteri beliau
meletakkan di depannya empat ribu biji kurma yang ia gunakan
untuk menghitung tasbihnya (H.R. at-Tirmidzi, al Hakim, ath-
Thabarani dan lainnya). Rasulullah tidak mengingkari hal itu,
Rasulullah hanya menunjukkan kepadanya yang lebih mudah
dan afdlal, tanpa melarangnya melakukan hal itu. Demikian
juga beberapa sahabat yang lain menghitung tasbih dengan biji
kurma, kerikil atau benang yang dibundelin seperti Abu
Shafiyyah; bekas budak Nabi (H.R. al Imam Ahmad dalam az-
Zuhd, al Jami' fi al 'Ilal wa Ma'rifat ar-Rijal, al Baghawi dalam
Mu'jam ash-Shahabah), Sa'd ibn Abi Waqqash (H.R. Ibnu Abi
Syaibah dalam al Mushannaf, Ibnu Sa'd dalam ath-Thabaqaat),
Abu Hurairah (H.R. Abdullah ibn Ahmad dalam Zawaa-id az-
Zuhd, Abu Nu'aim dalam al Hilyah, azh-Zhahabi dalam
Tadzkirah al Huffazh dan as-Siyar), Abu ad-Darda' (H.R. Ahmad
dalam az-Zuhd) dan lainnya.
Dari sini para ulama menyimpulkan bahwa menghitung
dzikir dengan tasbih atau semacamnya boleh, tidak haram,
tetapi yang lebih baik (afdlal) dihitung dengan jari tangan kanan.
Seperti halnya shalat Rawatib al Faraidl (Qabliyyah dan
41

