Page 76 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Keempat_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 76
Karena instruksi pemerintah bagi kaum perempuan untuk
menutup wajah tersebut bukan karena hal itu wajib atas mereka,
akan tetapi karena hal itu adalah sunnah dan mengandung
kemaslahatan umum, dan jika ditinggalkan akan menyebabkan
berkurangnya muru-ah, seperti halnya dalam masalah seorang
laki-laki mendengarkan suara perempuan; hal ini boleh ketika
tidak menyebabkan fitnah, dan pada asalnya suara perempuan
bukan aurat sebagaimana pendapat yang paling shahih”.
Seorang imam mujtahid; Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya
berkata : “Memberitakan kepada kami Ibnu Basysyar, berkata:
26
memberitakan kepada kami, Ibnu Abi ‘Adi dan Abd al-A’la dari
Sa’id dari Qatadah dari al-Hasan, tentang firman Allah:
) 31 :رينلا( اونم روظ ام ٗإ نوتنُز نُدبُ ٗو
(Dan hendaklah kaum perempuan tidak menampakan perhiasan
mereka kecuali apa yang nampak darinya).
Ia (al-Hasan) berkata: --kecuali yang nampak darinya-- ialah
wajah dan pakain. Maka pendapat yang paling benar adalah
bahwa yang dimaksud ayat tersebut ialah wajah dan pakaian.
Dan jika demikian masuk dalam pengertian ini; sifat mata
(sidau), cincin, gelang dan cutek (pacar). Kita menyatakan ini
pendapat yang paling utama (benar) dengan alasan karena
semua (ulama) sepakat bahwa seorang yang shalat wajib
menutup seluruh auratnya (yang harus ditutup dalam shalat),
sementara perempuan dalam shalatnya harus membuka wajah
dan kedua telapak tangannya. Selain dua hal tersebut seorang
perempuan wajib menutup seluruh badannya. Hanya saja ada
pendapat yang diriwayatkan dari nabi tentang dibolehkan
26 Jami’ al-Bayan Fi Tafsir al-Qur’an (9/54)
72

