Page 48 - Teori dan Isu Pembangunan_Neat
P. 48

1.48                                Teori dan Isu Pembangunan  



        2.   Alam Pikiran Ontologis
            Dunia mistis terutama ditandai oleh rasa takut dalam diri manusia terhadap
        daya-daya purba dalam kehidupan dan alam raya. Manusia mencari semacam
        strategi  untuk  menemukan  hubungan  yang  tepat  antara  manusia  dengan
        kekuatan-kekuatan  yang  ada  di  alam  semesta.  Perbuatan-perbuatan  praktis
        seperti  upacara  diutamakan,  tetapi  pertimbangan  teoritis  seperti  dongeng-
        dongeng  terjadinya  alam  raya  dipertimbangkan  pula.  Dalam  alam  berpikir
        ontologis  manusia  mulai  mengambil  jarak  terhadap  sesuatu  yang  ada  di
        sekelilingnya.  Ia  tidak  semata-mata  bertindak  sebagai  penonton  terhadap
        hidupnya  sendiri.  Dengan  demikian  ia  berusaha  memperoleh  pengertian
        mengenai kekuatan-kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Perbuatan-
        perbuatan  praktis  seperti  pertukangan,  teknik  dan  kesenian  memainkan
        peranannya, tetapi renungan-renungan teoritis mengenai alam yang nampak
        (fisika) dan alam yang tidak nampak (metafisika) mulai tampil ke permukaan.
        Perkembangan alam berpikir ini mulai membawa manusia untuk membuka
        cakrawala sebagai perkembangan dari  mitos ke  logos. Namun, unsur-unsur
        emosi, harapan sosial dan keyakinan agama atau relegiusitas tidak serta-merta
        digantikan  oleh  penggunaan  akal  budi  dalam  pola  berpikir.  Seperti  dalam
        perkembangan  sistem  Filsafat  Yunani,  manusia  mulai  mempertanyakan
        mengenai  makna  penderitaan,  alam  raya  dan  bahasa,  serta  mulai  menggali
        pemahaman-pemahaman mengenai kejadian-kejadian di sekitarnya.
            Alam berpikir ontologis merupakan titik awal dari kelahiran pengetahuan
        mengenai “ada”, yaitu mengenai sesuatu yang ada pada umumnya (ontologi).
        Fungsi pertama dari ontologis adalah membuat suatu peta mengenai segala
        sesuatu yang berada di atas manusia. Sikap ontologi berusaha menampakkan
        dunia  trasenden,  yaitu  dunia  yang  mengatasi  manusia  dan  bahkan
        menjadikannya sebagai sesuatu yang dapat dimengerti.
            Dalam  alam pikiran ontologis  manusia   berusaha  menempatkan segala
        sesuatunya dalam kerangka substansial. Makna dari substansialisme sendiri
        adalah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, dan tidak perlu bersandar pada sesuatu
        yang berada di luarnya. Substansialisme berarti memisahkan atau mengisolasi.
        Manusia,  Tuhan,  benda-benda,  dunia,  dan  nilai-nilai  dipandang  sebagai
        lingkaran-lingkaran yang berdiri sendiri  atau sebagai “substansi-substansi”
        yang lepas satu dengan yang lain. Hal ini memperlihatkan arogansi berpikir
        manusia, seolah-olah dengan akal pikirannya manusia dapat merangkum seluruh
        pemahaman dan menempatkannya dalam kotak-kotak definisi.
   43   44   45   46   47   48   49   50   51   52