Page 219 - CERPEN 9A - Copy
P. 219
mereka berkelahi sampai ke luar kelas. Tetap, kenia masih bodo amat.
Sekalinya dia sedang mendengarkan music di earphone nya dengan
volume tinggi, makanya dia tidak merasa janggal dengan keributan di
belakangnya.
Di sisi Louis dan alan yang sedang berkelahi, si Louis masih aja
melemparkan bangku ke alan, semua orang berusaha menghindari serangan
tersebut karena Louis melemparkan arah alan dan alan sangat cepat untuk
menghindar dari bangku-bangku tersebut. Tapi kali ini louis melempar
bangku ke arah belakang punggung kenia, alan yang melihat hal tersebut
segera berlari ke belakang kenia dan menangkis bangku tersebut.
Kedua lengan tangannya alan yang di pakai untuk menangkis bangku
terluka dan berdarah, orang-orang yang lain hanya merasa ngeri dan panik.
Kenia spontan merasa ada yang janggal dan langsung membalikkan
kepalanya, dia melihat alan ada di belakangnya. Dia kaget “lah, napa ada ni
manusia?” Gumam dia ke dirinya sendiri, kenia melihat ke sekeliling dan dia
melihat ke arah alan kenia kaget saat melihat tangan alan dipenuhi darah dan
luka, ada juga beberapa memar, sontak kenia panik. “Eh kenapa!?” Sorak
kenia, panik.
Dia langsung memegang telapak tangan alan untuk melihat apakah ada
luka yang lain ada atau tidak, louis yang sudah membuat alan terluka sempat
terdiam dan ricco beserta anggota osis yang lain mengambil kesempatan
tersebut untuk mencegahnya sebelum melemparkan serangan lain ke alan.
Keadaan sudah mulai membaik, tapi tidak dengan Alan yang tangannya
terluka, hal tersebut membuat kenia merasa bersalah karena Alan berkorban
untuk dia (kenia).
“Hm.. Eh, kamu alan kan? Kelas kita sama kan? Kelas animasi?” tanya
kenia, alan bingung tapi dia menganggukkan kepalanya. Alan tidak berani
bicara karena dia merasa malu sebab dia dilihat oleh temannya. “Yaudah, ayo
ke uks, berhentikan dulu perdarahan mu, baru ke wali kelas buat bawa kamu
219

