Page 238 - CERPEN 9A - Copy
P. 238
telah membaca sebuah pesan dari SMS temannya tersebut. Ia lalu lanjut
membaca pesan berikutnya.
“Loren ditabrak bus yang melaju kencang. Remnya blong, jadi supirnya
gak bisa ngerem bisnya itu.. “
“Kejadiannya sekitar jam 09.00 pagi di sekitar Symphony Hall.”
“Kondisinya parah, Lin.”
“Temanmu itu tewas di tempat..”
Seketika, air mata pun mengalir disertai bibirnya yang bergetar tanda
ingin menangis. Celine menyalahkan dirinya sendiri. Jika dirinya tidak
mengajak Loren untuk datang melihatnya, pasti Loren tidak akan berakhir
seperti ini.. Dunianya hancur. Padahal, tujuan utamanya bermain piano
hanyalah untuk Loren semata. Ternyata, yang bisa Celine perlihatkan
kepada Loren untuk pertama dan terakhir hanyalah Love’s Sorrow.
Sungguh amat disayangkan.
Hampir setiap hari ia mendatangi pemakamannya untuk meminta maaf
kepada Loren yang sudah tidak berjiwa. Celine masih saja menyalahkan
dirinya atas insiden naas yang telah terjadi. Hari-harinya dilalui dengan
warna abu. Tidak ada lagi yang mewarnai hidupnya yang abu itu menjadi
berwarna. “Jika saat itu aku tidak berkenalan dengan mu, kamu tidak akan
berakhir seperti ini. Dan jika bukan karena piano, kamu tidak akan
berakhir seperti ini. Maaf..”
888
Para siswa sedang asyik melempar-lempar kertas yang dibentuk seperti
bola berukuran kecil untuk menjahili temannya, ada juga yang tertidur
pulas di meja masing-masing. Kelas IX A sedang bebas melakukan banyak
hal untuk mengisi kebosanan mereka karena jam kosong. Berbeda dengan
Celine, ia baru-baru ini mencoba mempelajari alat musik baru, yaitu gitar.
Sudah lama ia tidak menyentuh piano semenjak kejadian itu. Saat ini, ia

