Page 237 - CERPEN 9A - Copy
P. 237
Tidak bisa dipungkiri betapa terkejutnya Celine pada saat ini. Dirinya telah
memenangkan kompetisi Piano untuk yang pertamakalinya. sayangnya,
perasaan senangnya itu segera berakhir saat ia teringat kembali dengan
kabar Loren yang tidak diketahuinya itu. Padahal, ia sudah berharap Loren
akan menemaninya hari ini. Apalagi Celine telah memenangkan kompetisi
tersebut untuk yang pertamakalinya. Padahal, tujuannya bermain piano
adalah agar bisa dipandang oleh Loren, pria yang ia sukai.
Celine pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia senang
namun juga kecewa karena Loren tak kunjung membalas pesannya. Ia
berbaring di kasur sambil melamun, membiarkan ponselnya berada di
sampingnya berharap suara notifikasi SMS dari Loren terdengar. Sekitar
lima belas menit pun berlalu, lamunan Celine pun buyar setelah
mendengar ponselnya berbunyi menandakan adanya pesan masuk.
Ia langsung menggenggam dan menyalakan ponselnya sambil
tersenyum berharap Loren membalas pesannya. Bibirnya yang tersenyum
itu perlahan kembali datar setelah ia melihat bahwa yang baru saja
mengirimkan pesan adalah salah satu teman kelasnya. Ia lalu
menyingkirkan ponselnya kemudian kembali berbaring di atas benda yang
empuk itu. Celine kembali was-was. Perasaan buruknya itu menghiasi
benaknya. Ia sebal dengan Loren karena telah membuatnya overthinking.
Padahal baru saja ia meraih prestasi. Namun bukannya senang, Celine
malah dibuat khawatir olehnya.
Tak lama kemudian, Celine pun terlelap. Dia berharap
mendapatkan kabar dari Loren saat ia terbangun nantinya. Saat Celine
terbangun, ia bergegas menyalakan ponselnya. Setelah melihat notifikasi
dari pesan temannya yang tadi, raut wajahnya terlihat heran karena
temannya ini mengirimkan pesan bertubi-tubi disertai dengan beberapa
panggilan tak terjawab. ‘CELINE! KAMU NGAPAIN AJA, SIH? DARI
TADI GAK ADA RESPON.’ Celine dibuat tambah kebingungan karena

