Page 232 - CERPEN 9A - Copy
P. 232
siswa tersebut. Wajahnya merah padam. Ia tak sangka momen ini
telah terjadi. Sungguh, ini adalah timing yang sangat tepat. Loren
memegang pundak kanan Celine di saat Celine sedang berusaha
mengendalikan tubuhnya yang sedang membeku.
Kutukan beku di tubuhnya itu pun seketika meleleh, membuat
tubuh Celine dapat kembali bergerak dengan normal. "Celine, ya? Hebat
banget, lho bisa main piano!" Puji Loren dengan perasaan kagum. "E-eh iya,
makasih ya. Sebenarnya aku belum terlalu lancar karena belum lama
mempelajari piano, hehe." Jawab Celine gugup. "Bagus dong kalau begitu.
Rajin rajin ya latihannya! Kenal aku kan? Aku Loren. Aku juga bisa main
piano karena dari kecil sudah ikut kursus piano, lho.
Akhirnya ada teman yang sefrekuensi. Hahaha." Ujar Loren yang
terdengar akrab. Karena Loren sangat ramah dan periang, Celine sudah
tidak terlalu gugup lagi. "Hai Loren, makasih ya atas dukungannya.
Kayaknya kamu orang pertama yang menganggap aku sebagai teman."
Jawab Celine dengan percaya diri. "Benarkah? Kalau gitu, aku minta
nomor ponsel mu dong. Supaya kalau ada apa-apa, tinggal hubungi saja
aku." Loren menawar Celine untuk bertukar nomor ponsel. Jangan ditanya,
Celine sudah pasti senang bukan kepalang. Mungkin saat ia kembali ke
rumah, ia akan segera meloncat-loncat di atas kasurnya itu.
Masih di tempat yang sama, mereka berbincang-bincang sampai lupa
dengan waktu. Loren adalah orang yang sangat akrab, ini membuat Celine
dapat bisa lebih terbuka dengannya. "Oh ya, aku nontonin kamu waktu
kamu di tampil di Symphony Hall tau! Keren deh. Ternyata kamu pianis
terkenal." Puji Celine. "HAH? KAMU DATANG KE SANA? Duhh, aku
malu jadinya." Jawab Loren sambil terkejut. "Ngapain malu? Performance
kamu keren banget padahal. Kamu yang di panggung dan kamu yang saat
ini ada di hadapanku benar-benar berbeda suasananya. Aku sempat ngira
kamu tuh orangnya nggak friendly. Ternyata nggak gitu, hehe." Ujar Celine.

