Page 231 - CERPEN 9A - Copy
P. 231

untuk  anaknya  memilih  apa  yang  anaknya  inginkan.  “Yayyy!  Makasih

                   paaah. Aku pokoknya bakalan rajin latihan.” Ujar Celine dengan gembira.

                          Celine  kemudian  dimasukkan  ke  salah  satu  tempat  kursus  piano

                   ternama di Indonesia. Celine tetap bersemangat walaupun piano sangatlah

                   rumit.  Tetapi,  walaupun  begitu  ia  tetap  konsisten  mempelajari  piano.

                   Celine menyentuh pianonya tanpa kenal lelah. Ia bisa saja berlatih sampai

                   3 jam setiap harinya.

                          Waktu  demi  waktu  berlalu.  Sudah  hampir  satu  tahun  Celine

                   mempelajari piano dengan konsisten dan tekun. Saat ini, ia sudah menjadi

                   senior  di  sekolahnya  yang  baru  itu.  Tepatnya  siswi  kelas  IX  A.

                   Beruntungnya lagi, Celine masih ditempatkan di kelas yang sama dengan

                   Loren.

                          Di suatu hari saat jam istirahat dimulai, Celine menyelinap masuk ke

                   dalam  ruang  musik  sekolah  yang  pernah  Loren  kunjungi  pada  saat  itu

                   untuk mencoba piano yang ada di dalam ruangan tersebut. Jari-jari Celine

                   lalu terangkat dan mendarat langsung di atas tuts-tuts piano. Celine akan

                   memainkan Waltz in B   Minor, Op. 69, No. 2. Ia mulai menekan satu-

                   persatu  tuts  piano  tersebut.  Walaupun  jari-jarinya  masih  sedikit  kaku,

                   namun waktu setengah tahun untuk mempelajari piano sampai bisa lancar

                   seperti ini adalah suatu proses yang sungguh cepat. Padahal, bermain piano

                   tidaklah  mudah.  Namun  sepertinya  Celine  memang  memiliki  bakat  di

                   bidang ini sehingga kemajuannya sungguh besar.

                          Setelah  celine  puas  dengan  aktivitas  yang  baru  saja  ia  lakukan,  ia

                   mendengar suara tepukan tangan dari belakangnya. Kepalanya pun segera

                   berbalik menghadap ke belakang untuk mencari tahu siapakah orang yang

                   menepuk  tangannya  itu.  Celine  sungguh  terkejut.  Jantungnya  seketika

                   berdetak  lebih  cepat  daripada  biasanya.  Ternyata  orang  yang  menepuk

                   tangan barusan adalah Loren. Celine tentu saja hanya bisa diam tanpa kata.

                   Kepalanya  kembali  menghadap  ke  piano  untuk  membuang  muka  dari
   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236