Page 229 - CERPEN 9A - Copy
P. 229
REAL??? INI KAN LOREN? KENAPA DIA MUNCUL DI AKUN INI?
APA JANGAN-JANGAN, LOREN ITU SISWA YANG AKU LIHAT
DI RUANG MUSIK TADI?!” Wajah Celine seketika berubah menjadi
merah padam. Tanpa dia sadari, tubuhnya bergerak menuju kamar mandi
dan bersiap untuk pergi ke Symphony Hall malam itu juga.
Waktu telah menunjukkan jam 19.00 WIB. Celine sudah berada di jalan
bersama supir pribadinya menuju tempat yang akan ia kunjungi.
Perasaannya saat ini tidak dapat dideskripsikan. Perasaan campur aduk
yang membuat dirinya senang maupun grogi? Entah apakah itu.
Celine pun tiba di Symphony Hall di jam 19.20 WIB. Untung saja
ia tidak telat. Celine segera memasuki aula tersebut tanpa pikir panjang
dan mencari tempat duduknya di kursi yang telah disediakan untuk
penonton.
10 menit menunggu, tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki
berkacamata yang menggunakan pakaian formal berjalan dari samping
panggung menuju piano yang berada di tengah-tengah panggung. Ia lalu
duduk di bangku piano yang sudah disediakan. Seisi aula pun seketika
hening. Pandangan Celine tak bisa lepas dari anak laki-laki berkacamata
tersebut. Ia terlihat sangat terpukau dengannya. Mata Celine berbinar bak
pupil mata kucing yang melebar. “Itu.. benar-benar dia.. Itu benar-benar
Loren!” ujar Celine sambil berbisik. Loren mulai meletakkan jari-jarinya di
atas tuts piano dan memainkannya perlahan-lahan. Tubuh Loren bergerak
mengikuti tempo nada, terhanyut dalam alunan suara yang ia ciptakan
sendiri. Semakin lama, jari-jari tangan Loren mulai bergerak lebih cepat.
Tidak ada tuts yang meleset satupun. Lagi-lagi, Celine dibuat terpukau
olehnya. Dia terdiam memperhatikan Loren yang sudah hanyut dalam
suasana. “Ballade Op. 23, No. 1, salah satu classical pieces yang ku suka.
Ini.. sangat indah.” Sebut Celine dalam benaknya. Perasaan yang ia

