Page 4 - KIAT-KIAT BERPERANG
P. 4

KATA PENGANTAR


            Fenomena  munculnya  radikalisme  dan  liberalisme  pemaham  keagamaan  menjadi
            tantangan tersendiri bagi para ulama di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Bukan hanya
            dikarenakan  kedua  faham  tersebut  telah  terbukti  membawa  dampak  buruk  bagi  umat
            Islam secara umum, namun lebih jauh dari itu kedua faham tersebut telah menyimpang
            terlalu jauh dari prinsip-prinsip ajaran agama, bahkan sering mengakibatkan perselisihan,
            permusuhan yang akhirnya mengakibatkan terorisme.

            Radikalisme  keagamaan  dalam  banyak  kesempatan  telah  terbukti  berdampak  pada
            munculnya  sikap  ekstrimisme,  dimana  sikap  tersebut  sangat  berpotensi  memunculkan
            tindakan terorisme. Dalam konteks ini, fakta yang terjadi menunjukkan bahwa akibat ulah
            segelintir orang Islam yang melakukan aktifitas kekerasan dengan mempergunakan simbol
            Islam  pada  kenyataannya  menimbulkan  kerugian  bagi  umat  Islam  pada  umumnya.
            Dampaknya,  umat  islam  terstigma  negatif  akibat  ulah  segelintir  orang  tersebut.
            Celakanya,  praktek-praktek  kekerasan  yang  dilakukan  segelintir  orang  tersebut  telah
            dimanfaatkan  oleh  pihak-pihak  lain  dengan  memanfaatkan  media  massa  sebagal  alat
            utama untuk memojokkan umat Islam secara umum. Padahal hakekatnya, Islam secara
            normatif  tidak  ada  kaitan  sama sekali  dengan  gerakan  radikal,  bahkan  tidak  ada  pesan
            moral Islam yang menunjuk kepada ajaran radikalisme dan terorisme.

            Di sisi lain, liberalisme pemahaman keagamaan juga tidak kalah seriusnya berakibat buruk
            pada umat Islam. Liberalisme paham keagamaan menuntut kebebasan tanpa batas dalam
            beragama. Setiap orang mempunyai hak untuk menafsirkan teks-teks dalam Al Qur’an dan
            as-sunnah tanpa harus memedulikan perangkat metodologis dalam melakukan penafsiran.
            Akibatnya,  tatanan  metodologi  dalam  memahami  teks-teks  keagamaan  yang  telah
            dirumuskan oleh para ulama dibongkar total. Sehingga tidak ditemukan lagi aturan baku
            dalam memahami nash.  Oleh karena itu harus ada batasan-batasan ketika menafsirkan
            ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadits yaitu harus menggunakan metoda setiap satu ayat Al
            Qur’an    harus  dijabarkan  dan  dijelaskan  oleh  ayat-ayat    lain  dari    Al  Qur’an  sebanyak
            mungkin ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan ayat yang pertama.

            Hal  itu  menjamin  hasil  penafsiran  satu  ayat  pertama  tidak  menyimpang    atau
            bertentangan  dengan  ayat-ayat  lain  di  dalam  Al  Qur’an,  sehingga  konsep  liberalisme
            dalam  menafsirkan  satu  ayat  Al  Qur’an  dijelaskan  oleh  opini  atau  pendapat  secara
            liberalisasi cenderung berbenturan dengan aneka pendapat dan aneka opini yang akhirnya
            akan  terjadi  konflik  perselisihan,  permusuhan  bahkan  berakibat  radikal  yang  akhirnya
            terjadi terorisme.

            Radikalisme Paham Keagamaan

            Radikal  dalam  bahasa  Indonesia  berarti  amat  keras  menuntut  perubahan.  Sedangkan
            radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara
            drastis  dan  kekerasan.  Dalam  perkembangannya,  radikalisme  kemudian  diartikan  juga
            sebagai faham yang menginginkan perubahan besar.




                                                                    KIAT-KIAT BERPERANG   iii
   1   2   3   4   5   6   7   8   9