Page 7 - KIAT-KIAT BERPERANG
P. 7
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al Qur’an surat (28) Al Qashash
ayat 77)
Klaim yang disampaikan oleh para pelaku teror bahwa apa yang mereka lakukan tidak lain
merupakan Jihad sangatlah tidak sesuai dengan ajaran Islam dan merupakan
penyimpangan dari makna jihad. Sebagaimana fatwa MUI di atas, melakukan jihad ada
syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salab satunya harus dilakukan di wilayah perang (daar
al harb). Padahal kita semua memahami, sejak Indonesia merdeka, para ulama yang
merupakan bagian penting dari pendiri negara ini, telah sepakat bahwa Indonesia
bukanlah wilayah perang (daar al-harb) melainkan merupakan wilayah damai (daar as-
shulh), wilayah aman (daar as-salam) dan wilayah dakwah (daar ad-da’wah). Bom bunuh
diri yang dilakukan dalam rangka pengeboman tersebut bukan dalam konteks tindakan
mencari kesyahidan (‘amaliyah al-istisyhad), karena dilakukan bukan di daerah perang.
Tindakan mencari kesyahidan (‘amaliyah al-Isstisyhad) dibolehkan hanya di daerah perang
(daar al-harb) atau dalam keadaan perang.
Sebagian ulama berpendapat bahwa kewajiban jihad bukanlah tujuan melainkan sebagai
perantara (washilah). Karena itu, jika ada cara lain yang lebih memungkinkan menuju
jalan hidayah maka cara itu lebih utama daripada cara jihad. Sebagaimana diungkapkan
dalam kitab ”I’anatul Thalibin” juz IV halaman 180-181:
“Kewajiban jihad merupakan washilah (perantara) bukan tujuan. Karena tujuan
peperangan itu hanyalah dalam rangka memberikan hidayah (petunjuk). Dan membunuh
orang kafir juga bukan tujuan sehingga apabila hidayah itu dimungkinkan dilakukan
dengan pendekatan dalil tanpa melalui peperangan maka itu lebih utama.”
Karena Allah tidak menyukai peperangan dan kerusakan
Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah
yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan
itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan
sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu
sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara
mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka
sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah
memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (Al Qur’an surat (05) Al
Maa-idaah ayat 64)
Dan Syuaib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan
janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu
membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (Al Qur’an surat
(11) Huud ayat 85)
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan
KIAT-KIAT BERPERANG vi