Page 12 - KIAT-KIAT BERPERANG
P. 12

awal  Islam,  akan  tetapi  karena  mereka  adalah  generasi  yang  paling  memahami
            bagaimana  cara  memahami  nash  (al-manhaj  fi  fahmi  an-nushus)  secara  benar
            sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah kepada mereka.

            Cara memahami nash tersebut telah tersistematisasikan sedemikian rupa oleh para ulama
            di  masa  tabi’at-tabi’in.  Para  ulama  era  tersebut  yang  telah  melakukan  langkah  besar
            mensistematisasi  al-manhaj  fi  fahmi  an-nushus  yang  terpenting  adalah  empat  imam
            mazhab,  yakni:  imam  Abu  Hanifah,  Imam  Malik,  Imam  Syafi’i,  dan  Imam  Ahmad  Ibnu
            Hanbal.  Keempat  imam  mazhab  ini  yang  paling  monumental  karya-karyanya  sehingga
            mempunyai banyak pengikut di masa setelahnya.

            Walaupun  demikian,  bukan  artinya  hanya  keempat  Imam  mazhab  tersebut  saja  yang
            menjaga  al-manhaj  fi  fahmi  an-nushus  sebagaimana  yang  diajarkan  Rasulullah  kepada
            para sahabat, ada banyak ulama lainnya yang juga melakukan hal yang sama, akan tetapi
            karena  apa  yang  dilakukan  oleh  empat  mazhab  ini  lebih  sistematis  dan  terformulasikan
            secara lebih baik, maka keempat mazhab inilah yang bisa bertahan pendapatnya hingga
            sampai saat ini.

            Dalam kaitan ini syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani menyatakan:

            Wajib  bagi  orang  yang  tidak  mempunyai  kompetensi  menjadi  mujtahid  mutlak  untuk
            mengikuti salah satu dari imam mazhab empat, yakni imam Syafi’i , imam Abu Hanifah,
            Imam Malik, dan imam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana perihtah Allah ‘Jika kalian tidak
            tahu  bertanyalah  kepada  ahlinya  “.  Allah  mewajibkan  orang  yang  tidak  tahu  untuk
            bertanya,  dan  mengambil  pendapat  ulama  yang  lebih  ‘aIim  ‘taqlid).  Dalam  hal  ini,
            terutama  dalam  masalah  furu’,  tidak  dibenarkan  bertaqlid  kepada  selain  keempat  imam
            mazhab  tersebut,  misalnya  mengikuti  pendapat  imam  Sofyan  Al  Tsauri,  Softan  bin
            Uyainah, dan A Abdurrahman bin Umar al-A uza‘i, begitu juga bertaqlid kepada salah satu
            dari  sahabat,  dengan  alasan  karena  pendapat  (mazhab)  mereka  belum  tersistematisasi
            dan tidak terbukukan”.

            Dengan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ma ana  alaihi wa ashabi” adalah
            merupakan paradigma berfikir dalam memahami dalil-dalil keagamaan (manhaj  al fikr fi
            fahmi  an-nushus  as-syar’iyah)  sebagaimana  dikembangkan  oleh  para  sahabat  dan
            tersistematisasi dalam pendapat imam mazhab empat, yakni imam as-Syafi’i, imam Abu
            Hanifah, Imam Malik, dan imam Abmad bin Hanbal :-radhiallahu ’anhum ajmain.

            Sebagai  paradigma  berpikir,  maka  konsep  “ma  ana  alaihi  wa  ashabi”    sebagaimana
            dijelaskan di atas patut menjadi acuan pertama dalam menetapkan hukum suatu masalah,
            sebagai  upaya  untuk  tetap  menjaga  bahwa  hukum  suatu  masalah  harus  masih  tetap
            dalam lingkup an-nushus as-syar’iyah.

            Ketiga, melakukan Intensifikasi Gerakan Dakwah. Bisa jadi munculnya faham liberalisme
            dan  radikalisme  faham  keagamaan  di  tengah  umat  Islam  di  Indonesia  disebabkan
            kurangnya  intensif  dakwah  yang  dilakukan.  Gerakan  dakwah  yang  ada  sekarang  dinilal
            kurang  menyentuh  apa  yang  dihutuhkan  oleh  umat  Islam.  Oleh  karenanya  diperlukan
            adanya gerakan dakwah yang sistematis dan terkoordinasi dengan rapi. Gerakan dakwah
            harus didahului dengan need assessment yang betul-betul menggambarkan kebutuhan riel
            masyarakat, sehingga gerakan dakwah bisa sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat.


                                                                    KIAT-KIAT BERPERANG                  xi
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17