Page 10 - KIAT-KIAT BERPERANG
P. 10
2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syari (Al Qur’an dan
as-Sunnah);
3. Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an;
4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Al Qur’an;
5. Melakukan penafsiran Al Qur’an yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir;
6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam;
7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul;
8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir;
9. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan
oleh syariah, seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak lima waktu;
10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar’i, seperti mengkafirkan muslim hanya
bukan kelompoknya.
Kriteria tersebut apabila dilanggar satu point saja maka sudah dianggap sesat, apalagi
kalau yang dilangar point-point dalam kriteria tersebut. Kriteria yang disampaikan oleh
MUI tersebut dapat dijadikan pedoman (guidance) bagi aparat pemerintahan yang
mempunyai kewenangan untuk memutus apakah sebuah aliran dianggap menyimpang
sehingga harus dilarang atau tidak. Kriteria tersebut juga dapat dijadikan pedoman
masyarakat luas dalam menghadapi ajakan dan berbagai aliran agar tidak terjerumus
masuk dalam kelompok aliran menyimpang tersebut.
Persoalannya apakan saat ini keputusan MUI ini sudah efektif disosialisasikan kepada
umat Islam di Indonesia?
Kedua, Pemahaman ajaran agama secara benar, yakni dengan telah berpegang pada
metodologi pengambilan hukum (manhajiyyan), tetap dinamis dan tidak hanya terpaku
pada makna literer nash (tathawwuriyyan). tetap mengedepankan faham moderat dalam
memahami ajaran agama (tasamuhiyyan), dan menjauhkan dari pemahaman agama yang
ekstrim (tawasshutiyyan).
Sebagaimana yang saya sampaikan dibanyak kesempatan, Salah satu metode yang bisa
dipergunakan adalah merevitalisasi pemahaman nash sebagâimana telah diajarkan oleh
Rasulullah saw kepada para sahabat, dan kemudian diformulasikan oleb para imam
mazhab (aimmah al-mazhab) dan bentuk metodologi dalam pengambilan hukum Islam.
Pemahaman nash sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul dan dijaga oleh para sahabat ini
diistilahkan dengan “ma ana ‘alaihi wa ashhabi”, sebagaimana hadits Nabi saw sbb:
”sesungguhnya bani Israel terpecah dalam 72 golongan, dan umatku terpecah dalam 73
golongan; semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: “Wahai
Rasulullah, siapa kelompok tersebut?”. Rasul menjawab “ma ana alaihi wa ashhabi
(yang mengikuti aku dan sahabatku)”
KIAT-KIAT BERPERANG ix