Page 34 - IHPD_Sulbar0504_cap
P. 34

aktif pada pintu masuk, baik melalui pelacakan kontak, pada fasilitas tertutup, pada pintu
                        masuk  wilayah  dan  pencatatan  data  penemuan  kasus  secara  aktif  pada  aplikasi  sistem
                        Online Pelaporan Harian COVID-19 dan PHEOC belum tertib; 2) penemuan kasus secara
                        pasif  di  tempat  kerja  atau  pada  kunjungan  pasien  dengan  gejala  ILI/SARI  ke  fasilitas
                        kesehatan  swasta  dan  pemerintah  serta  upaya  penemuan  kasus  secara  pasif  untuk
                        mendapatkan data kasus tersebut. Dalam pelaksanaannya, upaya penemuan kasus secara
                        aktif  dan  secara  pasif  belum  optimal  karena  kurang  dibarengi  tindakan  lanjutan  yang
                        memadai. Penemuan kasus belum didukung evaluasi, koordinasi, dan komunikasi dengan
                        Pemerintah Kabupaten untuk membangun dan memperkuat jejaring secara lintas program
                        dan lintas sektor. Pencatatan dan pelaporan data penemuan kasus secara aktif belum tertib,
                        sehingga masih terjadi perbedaan data antara sistem online pelaporan harian COVID-19
                        dengan PHEOC. Permasalahan lainnya adalah Pemerintah daerah memiliki keterbatasan
                        SDM baik jumlah dan kompetensi dalam melakukan upaya penemuan kasus secara aktif
                        dan pasif.

                               Dalam upaya treatment, pemerintah daerah belum memiliki Renops terkait strategi
                        manajemen klinis untuk pelayanan kesehatan secara komprehensif di Fasyankes, termasuk
                        strategi  pencegahan  dan  pengendalian  infeksi  untuk  pelayanan  kesehatan  di  fasyankes
                        maupun  masyarakat.  Permasalahan  lainnya  yang  ditemukan  yaitu  penunjukan  dan
                        penetapan  rumah  sakit  rujukan  COVID-19  belum  sepenuhnya  mempertimbangkan
                        kesiapan rumah sakit tersebut. Sarana dan prasarana, alat kesehatan, obat dan BMHP untuk
                        kegiatan  treatment  belum  sepenuhnya  tersedia  sesuai  kebutuhan.  Selain  itu,  tenaga
                        kesehatan belum mencukupi untuk melaksanakan manajemen klinis penanganan pasien
                        COVID-19 dan pemberian insentif dan santunan kematian kepada tenaga kesehatan belum
                        sepenuhnya sesuai ketentuan. Pembayaran klaim biaya pasien COVID-19, masih ada yang
                        berstatus dispute dan RSUD belum sepenuhnya mengajukan dan menerima pembayaran
                        klaim biaya pasien COVID-19 sesuai pedoman. Kegiatan  monitoring dan evaluasi atas
                        pelaksanaan manajemen klinis belum dilaksanakan secara komprehensif.
                             Dalam upaya edukasi dan sosialisasi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat belum
                        memiliki perencanaan strategis terkait komunikasi, informasi dan edukasi penanggulangan
                        COVID-19 yang komprehensif dan belum tersedia perencanan strategis untuk pemantauan,
                        evaluasi dan koordinasi atas pelaksanaan regulasi yang mengatur protokol kesehatan di
                        tempat  umum  yang  dilakukan  Kabupaten.  Sedangkan  permasalahan  lainnya  yang
                        ditemukan  di  pemerintah  daerah  adalah  penyampaian  pesan  kunci  kesehatan  belum
                        sepenuhnya mampu mengubah perilaku masyarakat. Hal ini diantaranya disebabkan oleh
                        terbatasnya  ketersediaan  personel  dan  anggaran  serta  kurangnya  kesadaran  masyarakat
                        untuk menerapkan protokol kesehatan. Selain itu upaya sosialisasi ketentuan pidana bagi
                        individu  yang  sengaja  menghalangi  upaya  penanganan  pandemi  COVID-19  belum
                        sepenuhnya  dilakukan  dengan  optimal  serta  belum  tersedia  perencanaan  strategis  dan
                        pelaksanaan koordinasi dengan aparat penegak hukum.

                             Sehubungan dengan permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan para kepala
                        daerah  diantaranya  agar:  1)  menyusun  dan  memutakhirkan  Renops  atau  dokumen
                        perencanaan  lain  secara  komprehensif  terkait  pelaksanaan  testing,  tracing,  treatment,
                        edukasi  dan  sosialisasi  dalam  penanganan  pandemi  COVID-19;  2)  mengupayakan
                        peningkatan sarana dan prasarana untuk mendukung RSUD melakukan self assement BSL-
                        2; 3) mengalokasikan SDM secara optimal dalam penemuan kasus secara aktif dan pasif;



                                                     Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Daerah – BPK Provinsi Sulawesi Barat I 25
   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38   39