Page 109 - combinepdf_Neat
P. 109
Kegiatan Belajar 3
Perkembangan Sosial Emosi
Perkembangan sosial dan emosional pada anak merupakan kondisi emosi dan kemampuan anak merespon
lingkungannya di usia sebelumnya. Para ahli juga sepakat bahwa perkembangan sosial-emosional anak bertujuan
untuk mengetahui bagaimana dirinya, bagaimana cara berhubungan dengan orang lain yaitu teman sebaya dan
orang yang lebih tua darinya. Bertanggung jawab akan diri sendiri maupun orang lain dan berperilaku sesuai
dengan pro sosial.
Perkembangan sosial dan emosional anak terkait dengan kemampuan anak untuk mengembangkan self-
confidence, trust, dan empathy. Menurut Waltz (2006), perkembangan emosi dan sosial pada masa awal kanak-
kanak dipengaruhi oleh faktor biologis (temperament, genetic, influences), relationships (quality of attachment),
dan lingkungannya (prenatal, family community, quality of child care). Boyd, dk. (2005) mengatakan bahwa
perkembangan emosi dan sosial anak mencakup oerncapaian serangkaian keterampilan dalam:
1. Mengidentifikasi dan memahami perasaannya sendiri
2. Membaca dengan tepat dan memahami kondisi emosi orang
3. Mengelola emosi dan mengekspresikan dalam bentuk yang konstruktif
4. Mengatur perilakunya sendiri
5. Mengembangkan empati pada orang lain
6. Menjalin dan memelihara hubungan
Menurut teori perkembangan sosial emosi Erik Erikson pada usia ini anak berada pada tahap prakarsa versus
rasa bersalah (initiative vs guilt). Di masa ini anak yakin bahwa mereka adalah diri mereka sendiri dan harus
menemukan ingin menjadi apa mereka kelak. Mereka mengidentifikasi diri mereka dengan orangtua sehingga
kadang membuat mereka ingin menjadi seperti orangtua mereka. Pada masa ini mereka memiliki energi berlebih
yang memungkinkan mereka melupakan kegagalan dengan cepat dan cepat berbaur dengan hal baru yang
menyenangkan. Jika orangtua atau pengasuh gagal dalam memfasilitasi anak pada tahap ini yang terjadi adalah
anak kehilangan rasa percaya dirinya atau merasa bersalah dengan kegagalan yang dilakukan. Dalam kehidupan
sehari-hari anak melakukan sesuatu dengan maksud membantu pekerjaan orang tua, namun karena masih
kurangnya keterampilan yang dimiliki anak, bantuan anak tersebut justru semakin menyulitkan pekerjaan
orangtua sehingga orang tua memarahi anak. Kondisi demikian dapat menyebabkan kepercayaan diri pada anak
sehingga anak menganggap bahwa dirinya tidak kompeten.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

