Page 106 - combinepdf_Neat
P. 106
Kegiatan Belajar 2
Perkembangan Bahasa Moral dan Agama
2. Fungsi Bahasa
Berikut ini merupakan fungsi dari bahasa menurut Halliday (Hetherington & Parke, 1998):
a. Fungsi instrumental, yaitu untuk memperlancar anak dalam mendapatkan kepuasan tentang apa yang
diinginkan dan untuk mengekspresikan keinginannya.
b. Fungsi pengatur, yaitu anak dapat mengontrol perilaku orang lain atau anak dapat meminta orang lain
melakukan sesuatu untuknya.
c. Fungsi interpersonal, yaitu untuk berinteraksi satu sama lainnya dalam dunia sosial anak.
d. Fungsi pribadi, yaitu untuk mengekspresikan pandangannya yang unik, perasaan dan sikap melalui
bahasa. Melalui bahasa ini anak mengembangkan identitas pribadi.
e. Fungsi heuristik, yaitu dengan bahasa anak dapat membedakan dirinya dari lingkungan, anak
menggunakan bahasa untuk menjelajahi dan memahami lingkungan.
f. Fungsi imajinasi, yaitu bahasa memperlancar anak untuk mengembangkan imajinasi dan khayalannya
sendiri atau masuk dalam dunianya sendiri.
g. Fungsi informatif, yaitu anak mengombinasikan informasi-informasi baru melalui bahasa.
Perkembangan Moral dan Agama
Moral berasal dari bahasa latin "mores" yang artinya tata cara, kebiasaan, dan adat. Menurut Hurlock,
moralitas adalah kebiasaan yang terbentuk dari standar sosial yang juga dipengaruhi dari luar individu.
Moralitas berkaitan dengan sistem kepercayaan, penghargaan, dan ketetapan yang terjadi di bawah sadar
tentang tindakan yang benar dan yang salah, dan untuk memastikan individu tersebut akan berusaha berbuat
sesuai dengan harapan masyarakat.
Perkembangan moral mencakup perkembangan pikiran (kognitif), perasaan dan perilaku menurut
aturan atau kebiasaan mengenai hal-hal yang seharusnya dilakukan ketika berinteraksi dengan orang lain
(Hurlock, 1980). Moral berkembang melalui norma-norma atau mengikuti cara yang dipakai oleh keluarga,
seorang pendidik dan lingkungannya. Sedangkan agama merupakan rangkaian moral yang dapat
menjelaskan bagaimana individu melihat makna hidupnya (Adams & Gullota, 1983)
Perkembangan moral pada umumnya mengacu pada teori Piaget atau teori Kohlberg. Menurut teori
perkembangan moral Piaget, moral baru berlaku di usia 4 tahun yaitu dengan moral heteronom. Anak
berfikir bahwa keadilan dan peraturan adalah properti dunia yang tidak bisa diubah dan dikontrol oleh orang.
Anak berpikir bahwa peraturan dibuat oleh orang dewasa dan terdapat pembatasan-pembatasan dalam
bertingkah laku. Pada tahap ini, anak menilai kebenaran atau kebaikan tingkah laku berdasarkan
konsekuensinya, bukan niat dari orang yang melakukan. Anak juga percaya bahwa aturan tidak bisa diubah
dan diturunkan oleh sebuah otoritas yang berkuasa. Anak berfikir bahwa mereka tidka berhak membuat
peraturan sendiri, melainkan dibuatkan aturan oleh orang dewasa. Orang dewasa perlu memberikan
kesempatan pada anak untuk membuat peraturan, agar anak menyadari bahwa peraturan berasal dari
kesepakatan dan dapat diubah.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

