Page 120 - combinepdf_Neat
P. 120
Kegiatan Belajar 3
Perkembangan Sosial dan Emosi
Perkembangan sosial pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di
samping dengan keluarga, anak tersebut juga mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya (peer group)
atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah tembah luas. Pada usia ini, anak mulai
memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama)
atau sosiosentris (mau memperhatiakn kepentingan orang lain). Anak dapat berminat terhadapat kegiatan-
kegiatan teman sebayanya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok, anak
merasa tidak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.
Pada aspek sosial, perubahan yang terjadi pada masa kanak-kanak lanjut antara lain: anak semakin
mandiri dan mulai menjauh dari orang tua dan keluarga, anak lebih menekankan pada kebutuhan untuk
berteman dan membentuk kelompok, anak memiliki kebutuhan yang besar untuk disukai dan diterima oleh
teman sebaya. Mengacu pada teori Erikson tentang perkembangan psiko sosial, masa kanak-kanak lanjut
berada pada tahap yaitu industry vs inferiority. Pada tahap ini anak-anak ingin memasuki dunia yang lebih
luas dalam hal pengetahuan dan pekerjaan. Kejadian yang paling penting pada tahap ini adalah ketika mereka
mulai masuk sekolah. Masuk sekolah membuat mereka berhadapan dengan banyak hal baru yang harus
dipelajari. Pengalaman berhasil akan membuat anak menumbuhkan “sense of industry” yaitu perasaan akan
kompetensi dan keahlian yang dimiliki anak. Sebaliknya, kegagalan akan menghasilkan “inferior” yaitu
perasaan bahwa dirinya tidak mampu melakukan apapun.
Emosi-emosi yang dialami pada tahap perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, iri hati, kasih
sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan. Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku
individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang positif, seperti perasaan senang, bergairah,
bersemangt atau rasa ingin tahu akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap
aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif dalam diskusi, mengerjakan
tugas, dan disiplin dalam belajar.Seiring pertambahan usia ,kemampuan anak mengendalikan emosinya sendiri
semakin berkembang. Anak-anak semakin menyadari tentang perasaannya sendiri dan orang lain. Anak-anak
juga semakin mampu mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan mampu mereaksi kondisi stres yang
dialami orang lain. Pada periode kanak kanak lanjut, anak akan lebih empatis dan perilaku tolong-menolong
semakin berkembang. Anak-anak juga mulai belajar mengontrol emosi negatif.
Secara umum perkembangan sosial dan emosi kanak-kanak dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dapat mengadakan ikatan dengan orang dewasa yang lain dan anak sebaya, lingkungan sosialnya
makin meluas.
b. Egosentrisme sudah agak berkurang, tetapi melihat kenyataan masih berdasarkan informasi yang
terbatas.
c. Mempunyai keinginan kuat menjadi anggota kelompok dan bisa diberlakukan aturan dan perjanjian
pada usia 10 tahun.
d. Konformisme tetapi karena sifat-sifat pribadi dan faktor situasional.
e. Emosi relatif lebih tenang dan bentuk ungkapannya berbeda dengan masa anak awal.
f. Waktu bermain berkurang. Anak sudah mulai sadar dengan jenis permainan dan kelompok
gendernya.
Ega Asnatasia Maharani, M.Psi., Psikolog. Intan Puspitasari, S.Psi., MA
Psikologi Peserta Didik

