Page 79 - Stabilitas Edisi 219 Tahun 2025
P. 79
dapat menimbulkan risiko baru yang lebih
sistemik. Dengan demikian, yang semula
dipasarkan sebagai “Reformasi Besar
Infrastruktur” berubah menjadi operasi
penyelamatan besarbesaran.
Rencana awalnya tampak meyakinkan
yaitu akan memadatkan tujuh BUMN
karya ke dalam tiga klaster spesialisasi
agar lebih ramping dan kompetitif. Klaster
1 terdiri dari PT Adhi Karya (Persero)
Tbk (ADHI), Brantas Abipraya, dan PT
Nindya Karya (Persero) akan fokus pada
infrastruktur air dan rel. Klaster 2 terdiri
Hutama Karya dan Waskita Karya akan
fokus ke jalan tol dan infrastruktur
institusional. Sementara Klaster 3
beranggotakan PT PP (Persero) dan PT
Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) akan
fokus pada Pembangunan gedung,
infrastruktur energi, dan industri.
Dari perspektif tata kelola, ide Dony Oskaria, COO Danantara
tersebut masuk akal. Indonesia memiliki
terlalu banyak kontraktor negara yang
saling bersaing untuk proyek yang
sama, menyumbang duplikasi biaya,
i tengah ambisi Presiden inefisiensi proyek, dan pemborosan
Prabowo Subianto menata modal. Konsolidasi dapat menciptakan Masih terdapat
ulang perekonomian spesialisasi serta skala ekonomi. problem keuangan
DIndonesia melalui konsolidasi Namun, harapan itu bertabrakan dengan
perusahaan negara, satu agenda besar kenyataan pahit di laporan keuangan cukup dalam di tubuh
kembali tertunda: penggabungan tujuh 2025.
perusahaan konstruksi. Proyek yang Data keuangan semester pertama BUMN Karya, sehingga
semula dijanjikan selesai pada 2025, kini dan kuartal ketiga 2025 menunjukkan konsolidasi tanpa
resmi diundur ke kuartal pertama 2026. bahwa sebagian besar BUMN karya
Penundaan itu bukan kejutan bagi berada dalam kondisi darurat. Empat restrukturisasi justru
siapa pun yang mengikuti kinerja sektor emiten terbesar — Waskita Karya, Wijaya
konstruksi belakangan ini. Neraca Karya, Adhi Karya, dan PP — mencatat dapat menimbulkan
keuangan yang rapuh, utang menumpuk, pembayaran ke vendor turun drastis 39 risiko baru yang lebih
dan arus kas yang negatif membuat persen dibanding tahun sebelumnya.
konsolidasi tidak mungkin dilakukan Angka ini bukan sekadar statistik; ia sistemik.
tanpa pembersihan besarbesaran terlebih mencerminkan ketidakmampuan bayar
dahulu. yang memperparah tertundanya proyek
BPI Danantara Indonesia, lembaga nasional dan menekan ekonomi daerah.
super-holding baru yang menggantikan Dalam hal arus kas operasional
peran Kementerian BUMN dalam semuanya negatif. Waskita Karya minus
menjalankan transformasi korporasi Rp1,26 triliun, Wijaya Karya minus Rp1,05
negara, menyatakan secara gamblang triliun, Adhi Karya minus Rp181 miliar, PP
bahwa merger tidak mungkin dipaksakan. minus Rp305 miliar.
Menurut COO Danantara, Dony Oskaria, Kerugian juga membengkak. Waskita
masih terdapat “problem keuangan cukup menutup kuartal ketiga dengan rugi
dalam” di tubuh BUMN Karya, sehingga lebih dari Rp2,1 triliun, sementara WIKA
konsolidasi tanpa restrukturisasi justru merugi Rp1,66 triliun. Laba PP dan ADHI
www.stabilitas.id Edisi 219 / 2025 / Th.XXI 79

