Page 356 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 356

ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK PADA PENGADAAN TANAH
                 SECARA LANGSUNG UNTUK PEMBANGUNAN KEPENTINGAN UMUM

                                                     Nia Kurniati
                        Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Jl Dipati Ukur No.35 Bandung
                                           Email: nia.kurniati@unpad.ac.id

             A. Pendahuluan

                  Tanah merupakan asset pendukung kehidupan di masa mendatang dan sumber mata
             pencaharian  karena  dapat  disewakan  atau  digunakan  sebagai  tempat  usaha  dan  berbagai
             kegiatan lainnya yang akan memberi manfaat ekonomi bagi pemiliknya. Tanah senantiasa
             akan dipertahankan haknya dari gangguan dan rongrongan pihak lain.

                  Salah satu unsur penting dalam kegiatan pembangunan infrastruktur adalah ketersedia-
             an  lahan  tanah.  Saat  ini  tidak  mudah  mencari  tanah  untuk  pelaksanaan  kegiatan  pem-
             bangunan, terutama di daerah perkotaan yang tingkat kepadatan penduduk dan aktivitasnya

             cukup tinggi. Pada umumnya, tanah-tanah sudah dikuasai atau dimiliki oleh masyarakat.
                  Pembangunan infrastruktur yang termasuk kategori “kepetingan umum” Pembangunan
             untuk  kepentingan  umum  antara  lain  pembangunan  jalan  umum,  jalan  tol,  pelabuhan,
             bandar udara, terminal rumah sakit pemerintah, kantor pemerintah, prasarana pendidikan,

             fasilitas  sosial,  fasilitas  umum,  dan  ruang  terbuka  hijau  publik  dan  lain-lain,  dinyatakan
             dalam Pasal 10 Undang-Undang No.2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Untuk Pem-
             bangunan  Kepentingan  Umum.  Untuk  melaksanakan  pembangunan  kepentingan  umum,

             Pemerintah  akan  melakukan  pengambilalihan  tanah  milik  individu,  karena  ketersediaan
             tanah negara sudah sangat terbatas.
                  Setiap orang akan memerlukan tanah, Pemerintah juga perlu tanah untuk melaksanakan
             pembangunan  untuk  kepentingan  umum.  Mengingat  ketersediaan  tanah  negara  sudah

             sangat terbatas, maka untuk melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum, Peme-
             rintah melakukan “pengadaan tanah untuk pembangunan kepentingan umum”. Pengadaan
             tanah dilakukan dengan pengambilalihan tanah milik orang lain melalui pelepasan hak atau

             peralihan hak atas tanah. Undang-Undang menentukan bahwa pengambilalihan tanah ke-
             punyaan  individu  harus  disertai  dengan  pemberian  kompensasi  ganti  kerugian  kepada
             pemilik tanah yang ber-hak. Penentuan besaran nilai ganti rugi yang akan diberikan kepada
             pemilik  tanah  berdasarkan  kata  sepakat,  tetapi  seringkali  sulit  dicapainya.  Persoalan  ke-

             tidaksepakatan nilai ganti rugi ini seringkali penjadi pemicu konflik yang berkepanjangan
             bahkan seringkali menimbulkan konflik multi dimensi. Pada gilirannya konflik multi dimensi
             ini tidak hanya berdampak juridis, tetapi juga berdampak sosial, ekonomi bahkan politis.

             Dampak dari konflik multi dimensi ini seringkali menghambat pelaksanaan pembangunan
             untuk kepentingan umum. Kondisi demikian berpotensi menimbulkan kerugian yang relatif
             besar karena tidak jarang proyek-proyek pemerintah yang akan dibangun, selain dibiayai dari


                                                          348
   351   352   353   354   355   356   357   358   359   360   361