Page 361 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 361

Nia Kurniati: Asas Kebebasan Berkontrak pada Pengadaan Tanah Secara Langsung ...     353


                  Menurut UU No.2 Tahun 2012 Pasal 13, pengadaan tanah untuk pembangunan kepen-
             tingan unum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang memerlukan tanah, dilakukan
             melalui beberapa tahapan yaitu tahap perencanaan, tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan
             tahap penyerahan hasil. Pada tahap “penyerahan hasil” dilakukan pelepasan hak atas tanah

             oleh pemegang haknya kepada negara melalui lembaga pertanahan (BPN) dan pelepasan hak
             atas  tanah  ini  mengakibatkan  putusnya  hubungan  hukum  antara  pemegang  hak  dengan
             tanah yang di-hakinya.

                  Berbeda  dari  pengadaan  tanah  menurut  Pasal  13  tersebut,  pengadaan  tanah  secara
             langsung untuk kepentingan umum dilakukan dalam rangka efektivitas dan efisiensi dari sisi
             waktu sehingga tidak perlu melalui tahapan-tahapan tersebut melainkan dapat dilakukan
             secara  langsung  antara  instansi  yang  memerlukan  tanah  dengan  pihak  yang  berhak  atas

             tanah melalui cara jual beli, tukar menukar atau cara lain yang disepakati. Akan tetapi luas
             tanah yang diperlukan tidak boleh melebihi 5 Ha , Undang-Undang No.2 Tahun 2012 sebagai
             dasar pengadaan tanah secara langsung telah dilengkapi dengan peraturan pelaksanaannya
             yaitu Peraturan Presiden (Perpres) No.71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan

             Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, yang telah diubah antara lain oleh
             Peraturan Presiden No.40 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Perpres No.71 Tahun 2012
             tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

                  Pasal  121  Peraturan  Presiden  No.40  Tahun  2014  menyebutkan  bahwa,  “Dalam  rangka
             efisiensi dan efektifitas, pengadaan tanah untuk kepentingan umum yang luasnya tidak lebih
             dari 5 (lima) hektar, dapat dilakukan langsung oleh Instansi yang memerlukan tanah dengan
             para pemegang hak atas tanah, dengan cara jual beli atau tukar menukar atau cara lain yang

             disepakati kedua belah pihak”. Kata “dapat” pada Pasal 121 ini, menurut Kamus Besar Bahasa
                                                                                 2
             Indonesia, tersebut mengandung arti “boleh”, “bisa”, dan “mungkin” . Jika kata “dapat” dihu-
             bungkan dengan bunyi Pasal 121 Perpres No.40 Tahun 2014 maka “pengadaan tanah secara
             langsung kurang dari 5 hektar” selain dilakukan melalui jual beli, tukar menukar, atau cara-

             cara lain yang disepakati dapat pula dilakukan dengan meminta bantuan Tim Persiapan dan
             Tim Pelaksana pengadaan tanah melalui cara pelepasan hak atau penyerahan hak atas tanah
             sebagaimana diatur oleh Pasal 13 sampai dengan Pasal 27 Undang-Undang No.2 Tahun 2012.

             Tim Persiapan dan Tim Pelaksana ini terdiri dari:
             a.  Pejabat yang membidangi urusan Pengadaan Tanah di lingkungan Kantor Pertanahan;
             b. Pejabat pada Kantor Pertanahan setempat pada lokasi Pengadaan Tanah;
             c.  pejabat satuan kerja perangkat daerah provinsi yang membidangi urusan pertanahan;

             d. Camat setempat pada lokasi Pengadaan Tanah;dan
             e.  Lurah/kepala desa atau nama lain pada lokasi Pengadaan Tanah.



                2   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka,
             Jakarta, 2003
   356   357   358   359   360   361   362   363   364   365   366