Page 364 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 364

356    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             tercantum pada Buku III KUHPerdata. Menciptakan bentuk-bentuk perjanjian baru untuk
             mewujudkan  hubungan  hukum  konkrit  antara  instansi  pemerintah  yang  membutuhkan
             tanah dengan pemegang hak atas tanah sangat dimungkinkan karena Buku III KUHPerdata
             menganut  “system  terbuka”  atau  asas  “kebebasan  berkontrak”  (beginsel  der

             contractsvrijheid).
                  Sejak  berlakunya  UUPA  lembaga-lembaga  hukum  yang  terdapat  di  dalam  hukum
             perdata  seperti  “jual  beli”  atau  “tukar  menukar”  demikian  pula  “cara-cara  lainnya  yang

             disepakati” yang dimaksudkan sebagai dasar untuk pemindahan hak atas tanah kini telah
             diadopsi ke dalam Hukum Tanah Nasional. Hal ini tercermin dalam Peraturan Pemerinta
             No.24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Pasal 37 Ayat (1), bahwa “jual beli dan tukar
             menukar merupakan salah satu alas hak bagi individu atau badan hukum untuk memperoleh

             hak atas tanah . Dengan demikian lembaga hukum “jual beli tanah” dan “tukar menukar
             tanah” diakui sebagai dasar penguasaan hak yang sah atau menjadi titel hak bagi instansi
             Pemerintah  memperoleh  tanah  dalam  rangka  pengadaan  tanah  secara  langsung  untuk
             pembangunan kepentingan umum. Agar “jual beli tanah” atau “tukar menukar tanah” yang

             dilakukan  oleh  instansi  pemerintah  dengan  pihak  pemegang  hak  atas  tanah  legitimate
             dihadapan hukum maka perbuatan hukum tersebut harus dibuat dengan akta yang dibuat
             oleh pejabat umum yang berwenang yaitu Pejabat Pembuat Akta Tanah.


             4. Ganti Rugi Pada Pengadaan Tanah Secara Langsung
                  Undang-Undang  No.2 Tahun 2012  Pasal  9  Ayat  (1),  menyebutkan  bahwa  “Penyeleng-
             garaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum memperhatikan keseimbangan antara

             kepentingan pembangunan dan kepentingan masyarakat. Selanjutnya pada Ayat (2) menye-
             butkan  bahwa  “Pengadaan  Tanah  untuk  Kepentingan  Umum  dilaksanakan  dengan  pem-
             berian Ganti Kerugian yang layak dan adil”. Peraturan Presiden No.71 Tahun 2012 Pasal 63
             ayat (1) menyebutkan bahwa “Penetapan besarnya nilai ganti kerugian dilakukan oleh Ketua

             Pelaksana  Pengadaan  Tanah  berdasarkan  hasil  penilaian  jasa  penilai  atau  penilai  publik”.
             Menurut UU No.2 Tahun 2012, pengertian Penilai Pertanahan selanjutnya disebut Penilai
             yaitu “orang perseorangan yang melakukan penilaian secara independen dan professional

             yang  telah  mendapat  ijin  praktek  penilaian  dari  Menteri  Keuangan  dan  telah  mendapat
             lisensi  dari  Lembaga  Pertanahan  untuk  menghitung  nilai/harga  objek  pengadaan  tanah”.
             Sedangkan istilah “Penilai Publik” adalah penilai yang telah memperoleh ijin dari Menteri
             Keuangan untuk memberikan jasa penilaian”. Di dalam Pasal 65 Ayat (1) menyebutkan bahwa

             “Penilai bertugas melakukan penilaian besarnya Ganti Kerugian bidang per bidang tanah,
             meliputi :
             a.  tanah;

             b. ruang atas tanah dan bawah tanah;
             c.  bangunan;
   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368   369