Page 367 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 367

Nia Kurniati: Asas Kebebasan Berkontrak pada Pengadaan Tanah Secara Langsung ...     359


             kepentingan  umum  menghendaki,  maka  kepentingan  pribadi  harus  mengalah  pada
             kepentingan yang lebih besar. Oleh karenanya Pasal 18 UUPA menyebutkan, bahwa “untuk
             kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama
             dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak

             dan menurut cara yang diatur dengan Undang-undang.
                  Penetapan ganti rugi berupa harga objek jual beli atau tukar menukar sesungguhnya
             harus didasari kata sepakat. Dalam konteks ini terjadi proses saling mendengar antara pihak

             yang memerlukan tanah dengan pemegang hak, menempatkan kedudukan yang setara dan
             sederajat  diantara  para  pihak,  terdapat  sikap  toleransi  yang  tinggi,  sehingga  sikap  saling
             menerima  pendapat  atau  keinginan  dilakukan  tanpa  adanya  unsur  paksaan  kehendak.
             Berdasarkan kata sepakat pula instansi pemerintah dengan pemegang hak atas tanah akan

             menetapkan harga objek pengadaan tanah. Dapat disimpulkan bahwa musyawarah sebagai
             dasar  penentuan  ganti  rugi  disamping  harus  memenuhi  syarat  yuridis  sesuai  peraturan
             perundang-undangan yang berlaku yaitu UU No. 2 Tahun 2012, Perpres No. 40 Tahun 2014
             dan  Perkaban  No.  5  Tahun  2012,  serta  Permenag/Ka  BPN  No.6  Tahun  2015  juga  harus

             memenuhi landasan filosofis dari sisi Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945 untuk
             mencapai ganti rugi yang layak dan adil bagi pemegang hak atas tanah.


             C. Kesimpulan
                  pertama:  Asas  kebebasan  berkontrak  diterapkan  pada  pelaksanaan  pengadaan  tanah
             secara  langsung  dengan  cara  jual  beli,  tukar  menukar,  atau  cara  lainnya  yang  disepakati
             antara  instansi  pemerintah  dengan  pemegang  hak  atas  tanah  yang  sah,  menggunakan

             lembaga hukum di luar UUPA dan aturan KUHPerdata Buku III dan Hukum Adat.
                  Kedua: Musyawarah untuk mencapai mufakat dalam penentuan ganti rugi yang layak
             dan adil bagi pemegang hak atas tanah masih menjadi keniscayaan karena penerapan asas
             fungsi  sosial  hak  atas  tanah  berimplikasi  tidak  setara  sederajat  kedudukannya  dengan

             instansi pemerintah yang membutuhkan tanah.

             D. Saran

                  Pertama: Penegakkan hukum pengadaan tanah sepatutnya memperhatikan konsistensi
             materi muatan pasal pada UU No.2 Tahun 2012 dan Perpres No.40 Tahun 2014 terhadap asas-
             asas hukum yang terdapat dalam KUHPerdata Buku III dan Hukum Adat.
                  Kedua:  Penyuluhan  dan  sosialisasi  hukum  pengadaan  tanah  secara  intensif  kepada

             masyarakat yang terkena proyek pembangunan untuk kepentingan umum melalui kerjasama
             antara  instansi  pemerintah  yang  memerlukan  tanah  dengan  perguruan  tinggi  melalui
             program Pengabdian Kepada Masyarakat.
   362   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372