Page 370 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 370

362    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


             tanah oleh pemerintah tersebut mengacu kepada peribahasa: salus papuli est suprema lax
             (kesejahteraan  rakyat  adalah  hukum  yang  tertinggi),  necessitas  publica  major  est  quam
             privata (kepentingan umum lebih besar daripada kepentingan pribadi), princeps et respublica
             ex justa causa possunt rem meam auferre/the prince and the commonwealth, for a just cause,
             can take away my property (penguasa dan negara, dengan alasan yang layak/memadai, dapat
             mengambil alih kepentingan pribadi), the law imposeth it on every subject that he prefers the

             urgent  service  of  his  Prince  and  Country,  before  the safety  of his  life  (hukum  mewajibkan
                                                                                                         2
             seseorang  untuk  mendahulukan  kepentingan  negara  daripada  keselamatan  pribadinya).
             Sementara  itu  Maria  S.W.  Sumardjono  menyatakan  bahwa  pengambilalihan  tanah  secara
             bertanggung jawab memerlukan itikad baik semua pihak, dan bagi para pelaksana meru-
             pakan tugas yang tidak ringan, terutama karena yang dipertaruhkan adalah rasa keadilan

                                                         3
             yang hidup dalam sanubari setiap manusia.
                  Hukum Tanah Nasional telah menetapkan tata cara perolehan tanah yang didasarkan
             kepada status tanah yang tersedia. Beberapa cara tersebut adalah permohonan hak, pemin-
             dahan hak, pembebasan hak, sepanjang si empunya tanah bersedia melepaskan tanahnya.
             Hukum Tanah Nasional melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan

             Hak Atas Tanah Dan Benda-Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah  menetapkan tata cara
             Pencabutan Hak. Tata cara ini dapat digunakan apabila pemilik tanah tidak bersedia mele-
             paskan tanahnya, sementara itu pembangunan yang memerlukan tanah tersebut tidak dapat
             dipindahkan ke tempat lain. Meskipun peraturan itu sampai sekarang masih berlaku, akan
             tetapi dalam  peraturan tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan

             umum tidak menyebut sama sekali pencabutan hak sebagai salah satu cara perolehan tanah
             bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Mekanisme yang digunakan oleh peraturan
             yang baru adalah melalui lembaga peradilan, dan juga penggunaan lembaga konsinyasi.

             B. Rumusan Masalah
                  Berdasarkan uraian tersebut, dirumuskan masalah:

                1.  Apakah  konsinyasi  melanggar  asas-asas  perolehan  tanah  menurut  Hukum  Tanah
                   Nasional?
                2.  Dapatkah  pencabutan  hak  sebagai  salah  satu  tatacara  perolehan  tanah  bagi  pem-
                   bangunan untuk kepentingan umum dihidupkan kembali?


             C. Pembahasan
             1.  Konsinyasi Melanggar Asas-Asas Perolehan Tanah Menurut Hukum Tanah
                Nasional





                2  Om Prakash Anggarwala, Compulsory Acquisition of Land In India Commentary On The Acquisition Of
             Land Act, I of 1894, (New Delhi India: The University Book Agency, 1993), hal 16–17.
                3 Maria S.W. Sumardjono, Kebijakan Pertanahan, Antara Regulasi Dan Implementasi, (Jakarta: Penerbit
             Buku Kompas, 2009),hal 266.
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375