Page 369 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 369

MENGHIDUPKAN PENCABUTAN HAK ATAS TANAH
               SEBAGAI SALAH SATU CARA PEROLEHAN TANAH OLEH PEMERINTAH

                                                Irene Eka Sihombing
                                         Fakultas Hukum Universitas Trisakti
                                             Email: ies07_07@yahoo.com>

                                                       Abstrak

                Pencabutan hak adalah upaya paksa pengambilalihan tanah oleh pemerintah manakala tidak adanya
                kata  sepakat  antara  pemilik  tanah  dengan  pemerintah  yang  memerlukan  tanah,  tanah  yang
                diperlukan adalah untuk kepentingan umum, di mana proyek tersebut tidak dapat dipindahkan ke
                tempat lain. Dalam UU Nomor 2 Tahun 2012 dimuat lembaga konsinyasi sebagai jurus pamungkas
                untuk perolehan tanah oleh pemerintah. Sementara itu UU Nomor 20 Tahun 1961 yang mengatur
                tentang Pencabutan Hak tidak pernah dicabut, tetapi tidak juga digunakan. Tulisan ini membahas
                dengan  singkat  dua  hal,  yakni  apakah  konsinyasi  melanggar  asas-asas  perolehan  tanah  menurut
                Hukum Tanah Nasional dan dapatkah pencabutan hak sebagai salah satu tata cara perolehan tanah
                bagi pembangunan untuk kepentingan umum dihidupkan kembali?
                Kata kunci: Pencabutan Hak

             A. Latar Belakang
                  Salah satu arah kebijakan umum pembangunan nasional 2015-2019 adalah mempercepat

             pembangunan  infrastruktur  untuk  pertumbuhan  dan  pemerataan.  Pembangunan  infra-
             struktur diarahkan untuk memperkuat konektivitas nasional untuk mencapai keseimbangan
             pembangunan,  mempercepat  penyediaan  infrastruktur  perumahan  dan  kawasan  permu-
             kiman  (air  minum  dan  sanitasi)  serta  infrastruktur  kelistrikan,  menjamin  ketahanan  air,

             pangan  dan  energi  untuk  mendukung  ketahanan  nasional,  dan  mengembangkan  sistem
             transportasi  massal  perkotaan.  Kesemuanya  dilaksanakan  secara  terintegrasi  dan  dengan
             meningkatkan peran kerjasama Pemerintah-Swasta.

                  Pembangunan infrastruktur di atas sudah barang tentu memerlukan ketersediaan tanah
             dalam jumlah yang cukup luas. Idealnya, tanah yang digunakan untuk pembangunan infra-
             struktur berstatus tanah negara. Namun, dalam kenyataannya tanah negara yang tersedia
             tidak  cukup  untuk  membangun  infrastruktur  yang  dieperlukan.  Terdapatnya  tanah  yang

             telah dikuasai oleh orang perorangan dengan suatu jenis hak atas tertentumembuat pero-
             lehan tanah sering kali mengalami hambatan. Tidak sedikit yang tidak bersedia melepaskan
             tanah mereka meskipun akan digunakan untuk kepentingan umum.

                  Demi kepentingan umum, pemerintah mempunyai kewenangan konstitusional untuk
             memperoleh tanah dari yang punya tanah. Berdasarkan Hak Menguasai Negara sebagaimana
                                                                                                         1
             ditegaskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, Pemerintah dapat melakukan perolehan tanah.
                  Kewenangan untuk memperoleh tanah demi pelaksanaan pembangunan untuk kepen-

             tingan umum sesungguhnya bersifat universal. Prinsip-prinsip yang mendasari pengadaan


                1  Oloan Sitorus, Dayat Limbong, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum,  (Yogyakarta: Penerbit
             Mitra Kebijakan Tanah Indonesia, 2004), hal 1.

                                                          361
   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374