Page 374 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 374

366    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


             menerima  ganti  kerugian  tersebut  dan  bahwa  tanggung  jawab  untuk  membayar  ganti
                                                     7
             kerugian dipandang telah dilaksanakan.
                  Berkaitan dengan lembaga penitipan ganti kerugian di Pengadilan Negeri (konsinyasi)
             jelas-jelas pasal ini sangat bertentangan dengan Undang-Undang Pokok Agraria. Menurut
             UUPA, hak-hak atas tanah itu dapat hapus apabila tanahnya jatuh kepada negara, oleh karena

                                                                                                         8
             pencabutan  hak  berdasarkan  pasal  18,  penyerahan  dengan  sukarela  oleh  pemiliknya,
             diterlantarkan, terkena ketentuan pasal 21 ayat (3) dan 26 ayat (2), tanahnya musnah.
                  Selanjutnya Pasal 100 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 menyatakan:


                “Obyek Pengadaan Tanah yang telah diberikan Ganti Kerugian atau Ganti Kerugian telah dititipkan di
                pengadilan  negeri  atau  yang  telah  dilaksanakan  Pelepasan  hak  Obyek  Pengadaan  Tanah,  hubungan
                hukum antara Pihak yang Berhak dan tanahnya hapus demi hukum”.Pasal 100 ayat (1) ini bertentangan
                dengan pasal 27, 34, dan 40 UUPA, di mana dalam ketiga pasal tersebut mengatur hapusnya hak atas
                tanah. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, penitipan ganti kerugian di pengadilan negeri tidak berakibat
                pada putusnya hubungan hukum antara tanah hak dengan pihak yang berhak (pemegang hak). Dengan
                demikian  pihak  yang  berhak  masih  mempunyai  hubungan  hukum  dengan  tanah  hak  yang
                bersangkutan.


             2.  Menghidupkan Pencabutan Hak Dalam Perolehan Tanah Bagi Pembangunan
                Untuk Kepentingan Umum
                  Secara  tegas  Pasal  18  Undang  Undang  Pokok  Agraria  menyatakan  bahwa  untuk
             kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama

             dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak
             dan menurut cara yang diatur dengan Undang-Undang. Dalam penjelasannya, disebutkan
             pasal ini merupakan jaminan bagi rakyat mengenai hak-haknya atas tanah. Pencabutan hak

             dimungkinkan, tetapi diikat dengan syarat-syarat, misalnya harus disertai pemberian ganti
             kerugian yang layak. Pada tanggal 26 September 1961 diterbitkan Undang-Undang Nomor 20
             Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak Hak Tanah Dan Benda Benda Yang Ada Di Atasnya,
             sebagai dasar untuk menyelenggarakan pencabutan hak.

                  Mengingat prinsip penghormatan terhadap hak atas tanah, apabila tanah yang sudah
             dikuasai oleh pemegang hak secara sah, jika diperlukan untuk pembangunan harus didahului
             dengan  musyawarah  terlebih  dahulu.  Apabila  musyawarah  tidak  mencapai  kesepakatan,

             maka  proyek  tidak  boleh  dipaksakan  dilaksanakan  di  lokasi  tersebut.  Akan  tetapi  kalau
             proyek tersebut bersangkutan dengan kepentingan umum, menurut ketentuan perundang-
             undangannya  dapat  dilaksanakan  pencabutan  hak,  dengan  tetap  memperhatikan  prinsip
             penghormatan terhadap hak atas tanah.

                  Dengan terbitnya Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia,
             semakin tampak usaha untuk memberikan keseimbangan antara kepentingan perorangan


                7  Maria S.W. Sumardjono, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, Jakarta: Penerbit
             Buku Kompas, 2009, hal 296-297.
                8  Penyerahan sukarela oleh pemiliknya, berarti tidak ada unsur paksaan, pemegang hak menerima ganti
             kerugian sesuai kesepakatan, uang ganti kerugian tidak dititipkan di Pengadilan Negeri.
   369   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379