Page 376 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 376

368    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


             negara, maka tanah perlu diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan yang dapat
             memberikan  kepastian  hukum  baik  dalam  penetapan  hak  ataupun  pencabutan  hak  atas
                       12
             tanahnya.
                  Banyak pendapat-khususnya mereka yang terlalu dipengaruhi oleh hak individualistis-
             bahwa hanya orang yang mempunyai hak dan disebutnya dengan hak asasi manusia, yang
             kemudian dengan seketika menafikan hak negara. Adalah kekeliruan apabila negara tidak

             mempunyai hak, karena pada dasarnya negara adalah pemegang hak (hak publik). Apabila
             meminjam pendapatnya Jean Jacques Rosseou bahwa ketika individu yang satu bergabung
             dengan individu yang lain maka jadilah mereka masyarakat, dan ketika masyarakat yang satu
             bergabung dengan masyarakat yang lain jadilah mereka suatu bangsa, dan ketika individu
             dan  masyarakat  bersepakat  membentuk  negara,  maka  secara  konseptual  mereka  telah

             menyerahkan  sebagian  hak  individunya  kepada  negara  untuk  diatur  guna  memberikan
                                                         13
             harmoni di antara mereka atau social order.
                  Dalam hal negara memerlukan tanah untuk kepentingan umum, maka negara diberikan
             wewenang  untuk  memperoleh  tanah  perseorangan,  meskipun  telah  dikuasai  dan/atau
             dimiliki oleh individu dengan sesuatu hak-hak privat, dengan catatan dilaksanakan melalui

             musyawarah  dan  negara  wajib  memberikan  ganti  rugi  yang  layak.  Keberlangsungan
             pembangunan untuk kepentingan umum tidak harus terkendala dengan penyediaan tanah,
             sebab negara sebagai pemegang hak publik memiliki wewenang untuk melakukan pengadaan
             tanah. Penggunaan wewenang tersebut agar tidak menjadi sewenang-wenang maka perlu
             pengaturan dengan level undang-undang sebagai lex specialist dari Undang-Undang Nomor

             5  Tahun  1960.  Pengadaan  tanah  wajib  menghormati  hak-hak  privat  sebagai  personifikasi
             pengakuan hak asasi manusia khususnya jaminan kebebasan untuk memiliki. Selain daripada
             itu  pemberian  ganti  kerugian  yang  layak  merupakan  kewajiban  yang  utama  termasuk
             pemulihan segala dampak hukum yang ditimbulkan dari pengadaan tanah.
                  Sebagaimana  telah  diuraikan  sebelumnya  bahwa  pencabutan  hak  didasarkan  kepada
             ketentuan Pasal 18 UUPA yang kemudian dilaksanakan dengan diterbitkannya UU 20/1961

             dan  Inpres  9/1973.  Berbeda  dengan  pelepasan  hak  atau  pembebasan  hak,  jual  beli,  yang
             kesemuanya ini merupakan cara perolehan tanah berdasarkan musyawarah. Kita mengetahui
             bahwa pencabutan hak adalah suatu lembaga hukum yang disediakan untuk memperoleh
             tanah  oleh  pemerintah  manakala  musyawarah  untuk  melepasakan  tanah  dan  pemberian

             ganti kerugian tidak mencapai kesepakatan, sedangkan tanah tersebut akan digunakan untuk
             pembangunan yang tidak mungkin dipindahkan ke lokasi lain. Oleh karena itu lalu disebut
             sebagai upaya paksa. Bukan dalam arti pemerintah memaksakan kehendaknya mengambil
             tanah rakyat, tetapi terpaksa dilakukan karena cara biasa yaitu melalui musyawarah tidak
             mencapai kesepakatan. Jadi, dalam pencabutan hak, pemegang hak atas tanah bukan berha-
             dapan dengan pihak yang kedudukannya sama, tetapi dengan Penguasa.




                12 Ibid, hal 21
                13 Ibid., hal 18
   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381