Page 373 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 373

Irene Eka Sihombing: Menghidupkan Pencabutan Hak Atas Tanah ...     365


                  Pasal 43:
                “Pada saat pelaksanaan pemberian ganti kerugian dan pelepasan hak sebagaimana dimaksud dalam
                pasal  41  ayat  (2)  huruf  a  telah  dilaksanakan  atau  pemberian  ganti  kerugian  sudah  dititipkan  di
                pengadilan negeri sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 ayat (1), kepemilikan atau Hak Atas Tanah
                dari Pihak yang Berhak menjadi hapus dan alat bukti haknya dinyatakan tidak berlaku dan tanahnya
                menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara”.

                  Dalam hal pihak yang berhak menolak bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian, tetapi
             tidak mengajukan keberatan dalam waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1),
             karena hukum pihak yang berhak dianggap menerima bentuk dan besarnya ganti kerugian

             sebagaimana dimaksud dalam pasal 37 ayat (1). Jika kita bandingkan isi pasal 38 dan 39 ini
             dengan Pasal 8 UU Nomor 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan
                                                6
             Benda-Benda Yang Ada Diatasnya,  maka apa yang dimuat oleh kedua pasal di atas jelas-jelas
             bertentangan dengan asas-asas perolehan tanah. Apabila kita menyebut kegiatan pengadaan
             tanah itu didasarkan atas musyawarah, maka harus tercapai kata sepakat.
                  Persoalan penitipan uang ganti kerugian, yang biasa disebut dengan konsinyasi, sangat

             bertentangan  dengan  asas  perolehan  tanah  yang  menyatakan  bahwa,  untuk  memperoleh
             tanah  yang  diperlukan tidak  dibenarkan  adanya  paksaan  dalam  bentuk  apapun  dan  oleh
             pihak  siapapun  kepada  pemegang  haknya, untuk  menyerahkan  tanah  kepunyaannya  dan
             atau menerima ganti kerugian yang tidak disetujuinya, termasuk juga penggunaan lembaga

             “penawaran  pembayaran  yang  diikuti  dengan  konsinyasi  pada  Pengadilan  Negeri”  seperti
             yang diatur dalam Pasal 1404 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Maria S.W. Sumardjo-
             no  menyebutkan  bahwa  secara  konsep,  penggunaan  lembaga  penitipan  melalui  analogi
             dengan Pasal 1404 Kitab UU Hukum Perdata  adalah keliru. Pasal 1404 Kitab UU Hukum
             Perdata mengatur tentang lembaga penawaran pembayaran diikuti dengan penitipan pada
             Pengadilan Negeri dilandasi pada hubungan yang bersifat keperdataan antara para pihak

             yang  berawal  dari  adanya  hubungan  utang  piutang.  Pengadaan  tanah  adalah  perbuatan
             hukum pemerintah untuk memperoleh tanah yang termasuk dalam ranah hukum adminis-
             trasi.  Untuk  memperoleh  tanah  dari  pemegang  hak  atas  tanah,  pemerintah  memberikan
             ganti  kerugian.  Jelaslah  bahwa  hubungan  antara  pemerintah  dengan  pemegang  hak  atas
             tanah bukanlah hubungan utang piutang yang bersifat keperdataan. Ketika pemegang hak

             atas tanah menolak untuk menerima ganti kerugian yang ditawarkan oleh instansi peme-
             rintah yang memerlukan tanah, maka tindakan untuk menitipkan uang ganti kerugian di
             Pengadilan Negeri merupakan tindakan yang bersifat sepihak, bahwa dengan telah dititip-
             kannya uang ganti kerugian itu dianggap bahwa seolah-olah telah terjadi kesepakatan untuk






                6 Jika yang berhak atas tanah dan/atau benda-benda yang haknya dicabut itutidak bersedia menerima
             ganti-kerugian  sebagai  yang,  ditetapkan  dalam  Surat  KeputusanPresiden  tersebut  pada  pasal  5  dan  6,
             karena dianggapnyajumlahnya kurang layak, maka ia dapat minta banding kepada PengadilanTinggi, yang
             daerah  kekuasaannya  meliputi  tempat  letak  tanah  dan/bendatersebut,  agar  pengadilan  itulah  yang
             menetapkan jumlah gantikerugiannya.Pengadilan Tinggi memutus soal tersebut dalam tingkat pertama
             dan terakhir.
   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377   378