Page 375 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 375

Irene Eka Sihombing: Menghidupkan Pencabutan Hak Atas Tanah ...     367


             dengan  kepentingan  umum.  Berkenaan  dengan  pengambilalihan  hak  atas  tanah  untuk
                                                                                 9
             kepentingan  umum  diatur  dalam  pasal  37  ayat  (1)  dan  ayat  (2). Dengan  diterbitkannya
             Undang-Undang ini dan berbagai pendapat yang muncul di kalangan masyarakat, seolah
             mempertentangkan antara perlindungan hukum yang harus diberikan kepada pemegang hak

             atas tanah di satu sisi dengan upaya pencabutan hak di sisi yang lain. Apakah benar upaya
             pencabutan hak itu merupakan suatu tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh
             pemerintah. Sementara itu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 Tentang Pencabuatan Hak

             Hak Tanah Dan Benda-Benda Yang Ada Di Atasnya sampai sekarang masih berlaku, dan
             belum ada upaya untuk merubah ataupun bahkan menggantinya. Dapat dikatakan bahwa
             lembaga ini  seperti lembaga yang “mandul”. Ada, tetapi tidak digunakan.
                  Menurut Boedi Harsono upaya pencabutan hak tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi
             juga  di  berbagai  negara.  Ketika  sebidang  tanah  yang  sudah  dikuasai  oleh  pemegang  hak

             dengan suatu hak atas tanah tertentu, diperlukan untuk kegiatan pembangunan bagi kepen-
             tingan umum, sementara itu lokasinya tidak dapat dipindahkan ke tempat lain, dan sudah
             dilakukan upaya musyawarah, akan tetapi menemui “jalan buntu” maka lembaga pencabutan
             hak ini yang digunakan.

                  Apakah negara mempunyai kewenangan untuk melaksanakan pencabutan hak? Miriam
             Budiarjo  dalam  bukunya  Dasar-Dasar  Ilmu  Politik  menulis  bahwa  negara  merupakan
             integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik. Negara
             adalah alat (agency) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan
                                                                                                 10
             manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan yang terjadi.  Dalam
             kaitannya  dengan  tanah,  sebagaimana  diuraikan  sebelumnya,  Negara  selaku  organisasi

             kekuasaan seluruh rakyat, bertindak dalam kedudukannya sebagai kuasa dan petugas Bangsa
             Indonesia. Dalam melaksanakan tugas tersebut ia merupakan organisasi kekuasaan rakyat
             yang tertinggi.
                  Tanah mempunyai kedudukan yang amat penting bagi manusia, masyarakat dan negara,
                                                                                   11
             dan  tanah  selalu  ada  dalam  kehidupan  dan  penghidupan  manusia.  Untuk  mewujudkan
             ketertiban hukum, negara perlu mengatur hubungan hukum antara manusia dengan tanah
             atau manusia dengan manusia yang berkaitan dengan tanah. Hukum yang mengatur hu-
             bungan itu adalah Hukum Tanah, yang sifat hukumnya tidak independen lepas dari pengaruh
             hukum manapun, tetapi sangat dipengaruhi dengan hukum keperdataan, hukum ekonomi
             bahkan  hukum  administrasi,  termasuk  di  dalamnya  hukum  pidana  administrasi.  Hukum

             Tanah selain mengandung unsur hukum perdata tetapi juga mengandung hukum publik,
             selain unsur-unsur hukum lainnya. Begitu pentingnya peran tanah bagi individu, rakyat dan

                9  Maria S.W. Sumardjono, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, (Jakarta: Penerbit
             Buku Kompas, 2008), hal 270.

                10  Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT Gramedia) dikutip oleh H. Mohammad Hatta,
             Hukum Tanah Nasional Dalam Perspektif Negara Kesatuan (Yogyakarta: Media Abadi, 2005), hal 61.
                11  Gunanegara, Rakyat Dan Negara Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan (Jakarta: PT Tatanusa,
             2008), hal 12.
   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380