Page 372 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 372

364    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


                   pembebasan lahan yang berada di bidang kritis. Salah satu kendala yang dihadapi dalam
                   pembebasan  lahan  adalah  banyaknya  pemilik  lahan  yang  tidak  setuju  dengan  harga
                   tanah  yang  ditentukan  appraisal.  Padahal,  appraisal  telah  menentukan  harga  tanah
                   sebesar Rp 26 juta per meter persegi. Ini di atas harga nilai jual objek pajak (NJOP) di
                                                                             5
                   kawasan tersebut, yang hanya Rp 13 juta per meter persegi.
                  Menurut  Maria  S.W.  Sumardjono,  penerapan  penawaran  pembayaran  yang  diikuti
             dengan  penitipan  pada  Pengadilan  Negeri  yang  diatur  dalam  Pasal  1404  Kitab  Undang

             Undang  Hukum  Perdata,  keliru  ditetapkan  dalam  Perpres  Nomor  36  Tahun  2005  yang
             diperbaharui  dengan Perpres  Nomor  65  Tahun  2006.  Pengadaan  tanah  adalah  perbuatan
             pemerintah/Pemda, yang termasuk dalam ranah Hukum Administrasi, sedangkan lembaga
             penawaran  dalam  Pasal  1404  KUUHPerdata  mengatur  hubungan  hukum  keperdataan  di

             antara para pihak. Selain keliru menerapkan konsep dan terkesan memaksakan kehendak
             sepihak.
                  Meskipun  sudah  dikritisi,  akan  tetapi  Pemerintah  tetap  mencantumkan  konsinyasi
             sebagai ”jurus pamungkas” dalam perolehan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan

             umum. Hal ini dibuktikan dengan dimuatnya pasal dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun
             2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
                  Pasal 38 dan 39 UU Nomor 2 Tahun 2012:

                (1) Dalam hal tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian,
                   pihak  yang  berhak  dapat  mengajukan  keberatan  kepada  pengadilan  negeri  setempat
                   dalam  waktu  paling  lama  14(empat  belas)  hari  kerja  setelah  musyawarah  penetapan
                   Ganti Kerugian sebagaimana dimaksud dalamPasal 37 ayat (1).

                (2) Pengadilan  negeri  memutus  bentuk  dan/atau  besarnya  Ganti  Kerugian  dalam  waktu
                   paling lama 30 (tigapuluh) hari kerja sejak diterimanya pengajuan keberatan.
                (3) Pihak  yang  keberatan  terhadap  putusan  pengadilan  negeri  sebagaimana  dimaksud
                   padaayat  (2)  dalamwaktu  paling  lama  14  (empat  belas)  hari  kerja  dapat  mengajukan

                   kasasi kepada Mahkamah AgungRepublik Indonesia.
                (4) Mahkamah Agung wajib memberikan putusan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh)
                   hari kerja sejakpermohonan kasasi diterima.

                (5) Putusan pengadilan negeri/Mahkamah Agung yang telah memperoleh kekuatan hukum
                   tetap  menjadidasar  pembayaran  Ganti  Kerugian  kepada  pihak  yang  mengajukan
                   keberatan.
                  Pasal 42:

                “Dalam hal pihak yang berhak menolak bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian berdasarkan hasil
                musyawarah  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  37,  atau  putusan  Pengadilan  Negeri/Mahkamah
                Agung  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  38,  Ganti  Kerugian  dititipkan  di  pengadilan  negeri
                setempat.”



                5 Dikutip dari BeritaSatu.com
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377