Page 366 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 366

358    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             b. seorang yang ditunjuk sesuai dengan ketentuan anggaran dasar bagi Pihak yang Berhak
                berstatus badan hukum; atau
             c.  Pihak yang Berhak lainnya.
                  Dalam  hal  Pihak  yang  Berhak  telah  diundang  secara  patut  tidak  hadir  dan  tidak

             memberikan kuasa, Pihak yang Berhak dianggap menerima bentuk dan besar Ganti Kerugian
             yang ditetapkan oleh Pelaksana Pengadaan Tanah (Pasal 71 ayat 3). Hasil kesepakatan dalam
             musyawarah  menjadi  dasar  pemberian  Ganti  Kerugian  kepada  Pihak  yang  Berhak  yang

             dituangkan  dalam  Berita  Acara  Kesepakatan  (Pasal  72  ayat  1).  Selanjutnya  Pelaksana
             Pengadaan Tanah membuat penetapan mengenai bentuk Ganti Kerugian berdasarkan Berita
             Acara Kesepakatan (Pasal 75 ayat (2).
                  Di dalam Perpres No.40 Tahun 2014 Pasal 73 telah diatur jika terjadi ketidaksepakatan

             mengenai ganti rugi, yaitu kepada Pihak yang Berhak dapat mengajukan keberatan kepada
             Pengadilan Negeri setempat dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah
             ditandatangani  Berita  Acara  hasil  musyawarah.  Selanjutnya  Pengadilan  Negeri  memutus
             bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian dalam waktu paling lama 30 (tigapuluh) hari kerja

             sejak diterimanya pengajuan keberatan. Dalam hal Pihak yang berhak keberatan terhadap
             putusan  Pengadilan  Negeri  dalam  waktu  paling  lama  14  (empat  belas)  hari  kerja  dapat
             mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung. Mahkamah Agung wajib memberikan kepu-

             tusan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan kasasi diterima.
             Dalam hal Pihak yang Berhak menolak bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian berda-
             sarkan  putusan  pengadilan  negeri/Mahkamah  Agung  yang  telah  memperoleh  kekuatan
             hukum tetap, maka Instansi yang memerlukan tanah mengajukan permohonan penitipan

             Ganti Kerugian kepada ketua pengadilan negeri pada wilayah lokasi pembangunan untuk
             kepentingan umum (Pasal 86 ayat 3).
                  Kata kunci pertama dalam pengadaan tanah secara langsung ini, adalah kepentingan
             umum, dan kata kunci kedua, adalah musyawarah. Musyawarah untuk mencapai mufakat

             merupakan ciri khas demokrasi Pancasila, musyawarah harus diliputi oleh semangat keke-
             luargaan dan dilakukan dengan akal sehat sesuai dengan hati nurani yang luhur. Penitipan
             ganti rugi di pengadilan, pada dasarnya telah mencederai prinsip musyawarah mufakat yang

             harus dijunjung tinggi oleh para pihak. Tanpa adanya proses musyawarah mufakat antara
             pemegang  hak  atas  tanah  dengan  pihak  instansi  pemerintah  yang  memerlukan  tanah,
             pengadaan tanah secara langsung bagi pembangunan kepentingan umum tidak akan pernah
                       9
             terealisasi .
                  Dalam perspektif teoritik, ketika musyawarah tidak berhasil mencapai penetapan ganti
             rugi, maka keberlakuan asas fungsi sosial hak atas tanah akan diterapkan, sehingga ketika



                9   Achmad  Rubaie,  Hukum  Pengadaan  Tanah  Untuk  Kepentingan  Umum,  Penerbit  Bayu  Media
             Publishing, Malang, 2007, Hlm.147.
   361   362   363   364   365   366   367   368   369   370   371