Page 362 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 362

354    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



                  Ketika  pengadaan  tanah  dilakukan  langsung  oleh  Instansi  yang  memerlukan  tanah
             dengan para pemegang hak atas tanah, melalui cara jual beli atau tukar menukar atau cara
             lain yang disepakati kedua belah pihak, maka proses perjanjiannya akan dilakukan melalui
             transaksi yang lazim terjadi dalam lapangan Hukum Perdata. Dengan demikian ketentuan

             Pasal  121  bersifat  fakultatif  atau  memberikan  pilihan  kepada  instansi  pemerintah  untuk
             menggunakan cara cara jual beli atau tukar menukar yang terdapat di dalam hukum perdata
             yang tunduk pada KUHPerdata Buku III, ataukah akan memakai cara menurut aturan dalam

             UU No.2 Tahun 2012 Pasal 13 – Pasal 27.
                  Pilihan cara “jual beli”, “tukar menukar” atau “cara-cara lain yang disepakati” menimbul-
             kan konsekuensi berlakunya Hukum Perdata bagi kedua belah pihak yaitu instansi Pemerin-
             tah dan pihak pemegang hak atas tanah. Oleh karena itu transaksi tersebut harus memenuhi

             ketentuan syarat-syarat sahnya perjanjian yang diatur oleh Pasal 1320 KUHPerdata yaitu: (i)
             adanya kata sepakat diantara kedua belah pihak; (ii) adanya kecakapan pihak-pihak yang
             membuat  perjanjian;  (iii)  adanya  objek  tertentu;  serta  (iv)  adanya  kausa  yang  halal.
             Penggunaan lembaga hukum yang terdapat dalam Hukum Perdata bagi pengadaan tanah

             secara langsung semata-mata dikarenakan sifat Buku III KUHPerdata adalah terbuka yaitu
             tersurat dalam Pasal 1338 ayat (1) mengandung “asas kebebasan berkontrak”.


             3.  Asas Kebebasan Berkontrak Pada Pengadaan Tanah Secara Langsung
                  Asas kebebasan berkontrak adalah asas yang dianut dalam Hukum Perjanjian terdapat
             dalam KUHPerdata Buku III. Asas kebebasan berkontrak tersimpul dari Pasal 1338 ayat (1)
             menyebutkan : “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang

             bagi  mereka  yang  membuatnya”.  Kata  “semua”  yang  diletakkan  dimuka  kata  “perjanjian”
             menunjukkan suatu pernyataan bahwa kita diperbolehkan membuat perjanjian apa saja dan
                                                         3
             itu akan mengikat sebagai undang-undang . Pembatasan terhadap kebebasan itu  terletak
                                              4
             pada “ketertiban dan kesusilaan” . Asas kebebasan berkontrak diadopsi oleh UU No.2 Tahun
             2012 melalui peraturan pelaksanaannya yaitu Peraturan Presiden No.40 Tahun 2014 Pasal 121
             sebagai  dasar  melaksanakan  pengadaan  tanah  secara  langsung  untuk  pembangunan
             kepentingan umum melalui cara jual beli, tukar menukar atau cara-cara lain yang disepakati.

                  Penggunaan  cara  jual  beli  atau  tukar  menukar  atau  cara  lain  yang  disepakati,  untuk
             melaksanakan  pengadaan  tanah  secara  langsung,  pada  prinsipnya  tidak  dikenal  dalam
             Hukum Tanah versi UUPA. Secara nota bene “jual beli” dan “tukar menukar/barter” dikenal
             dalam Hukum Adat dan Hukum Perdata. Sebelum berlakunya UUPA, tanah sebagai benda

             tidak bergerak diatur dalam KUHPerdata Buku II tentang Benda dan lembaga hukum “jual
             beli” terdapat dalam Pasal 1457, sedangkan “tukar menukar” terdapat dalam Pasal 1541. Segala
             apa  yang  dapat  dijual  dapat  pula  menjadi  bahan  tukar  menukar.  Berdasarkan  Pasal  1457



                3  R. Subekti, Aneka Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1982, Hlm. 17  .
                4  Ibid.
   357   358   359   360   361   362   363   364   365   366   367