Page 363 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 363

Nia Kurniati: Asas Kebebasan Berkontrak pada Pengadaan Tanah Secara Langsung ...     355


             KUHPerdata dapat dibuat perjanjian jual beli tanah, dalam mana pihak yang mempunyai
             tanah yang disebut penjual berjanji dan mengikatkan diri untuk menyerahkan haknya atas
             tanah yang bersangkutan kepada pihak lain yang disebut pembeli, sedangkan pihak pembeli
             berjanji dan mengikatkan diri untuk membayar harga yang telah disetujui. Objek jual beli

             dalam ketentuan barat ini adalah tanah dengan hak barat yaitu hak eigendom, hak erfpacht,
             dan hak opstal. Dengan dilakukannya jual beli tersebut belum ada perubahan apapun pada
             hak atas tanah yang bersangkutan walaupun pembeli sudah membayar penuh harganya dan
                                                                                    5
             tanahnya pun secara fisik sudah diserahkan kepadanya. Oleh karena itu  meskipun mengenai
             tanah, tetapi  ketentuan  hukum  mengenai  jual beli  tersebut  bukan  merupakan  ketentuan
             Hukum Tanah.
                  Di dalam Hukum Adat, “jual beli tanah” bukan perbuatan hukum yang disebut “perjan-

             jian obligatoir” atau perjanjian yang bersifat timbal balik, melainkan merupakan perbuatan
             hukum  pemindahan  hak  dengan  pembayaran  tunai.  Hal  ini  berarti,  harga  yang  disetujui
             bersama, dibayar penuh pada saat dilakukan jual beli. Dalam hukum adat tidak ada penger-
             tian penyerahan yuridis sebagai pemenuhan kewajiban penjual, karenanya yang disebut “jual

             beli tanah” itu adalah penyerahan hak atas tanah yang dijual kepada pembeli yang pada saat
             yang sama membayar penuh kepada penjual harga yang telah disetujui bersama. Jual beli
                                                                                              6
             tanah menurut pengertian Hukum Adat pengaturannya termasuk Hukum Tanah .
                  Istilah “tukar menukar tanah” adalah suatu perjanjian dengan mana kedua belah pihak
             mengikatkan dirinya untuk saling memberikan suatu barang secara bertimbal balik sebagai
                                                                                                        7
             gantinya suatu barang lain. Demikian definisi yang diberikan oleh Pasal 1541 KUHPerdata .
             Perjanjian “tukar menukar tanah” dapat dilihat bahwa itu merupakan “perjanjian obligatoir”

             saja seperti jual beli, dalam arti bahwa perjanjian itu belum memindahkan hak milik tetapi
             baru pada taraf memberikan hak dan kewajiban. Masing-masing pihak mendapat hak untuk
             menuntut  diserahkannya  hak  milik  atas  barang  yang  menjadi  objek  perjanjian.  Yang
             memindahkan hak milik atas masing-masing barang adalah levering atau “penyerahan hak

             secara yuridis”. Dengan demikian terdapat perbedaan antara jual beli tanah dengan tukar
             menukar tanah, yaitu pada kontra prestasi nya. Pada “jual beli tanah” prestasi dan kontra
             prestasinya adalah “tanah vs uang”, sedangkan di dalam “tukar menukar tanah” adalah “tanah

             vs tanah/benda lainnya yang disepakati”.
                  Selain  melalui  “jual  beli  tanah”  dan  “tukar  menukar  tanah”,  pengadaan  tanah  secara
             langsung untuk pembangunan kepentingan umum dapat pula dilakukan melalui “cara-cara
             lain  yang  disepakati”.  Di  dalam  “cara-cara  lainnya”  ini,  tersedia  peluang  bagi  instansi

             pemerintah dan pemegang hak atas tanah untuk menciptakan bentuk-bentuk “kesepakatan”
             lainnya  yang  dituangkan  ke  dalam  perjanjian  dengan  nama  apapun  meskipun  tidak


                5  Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia – Sejarah Pembentukan UUPA, Isi, Dan Pelaksanaannya,
             Penerbit Djambatan, Jakrta, 2003, hlm.27-28.
                6  Ibid.
                7  Subekti, Aneka Perjanjian, Penerbit Alumni, Bandung, 1982, hlm.47-48.
   358   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368