Page 360 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 360

352    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             r.  pasar umum dan lapangan parkir umum.
                  Ditetapkannya secara limitatif kegiatan-kegiatan pembangunan yang termasuk dalam
             kategori  “kepentingan  umum”  sangatlah  penting  dan  merupakan  bentuk  penghormatan
             terhadap  hak  milik.  Hak  milik  merupakan  “hak  terkuat  dan  terpenuh”  (Pasal  20  UUPA).

             Dalam makna terkuat dan terpenuh bukan berarti wewenang mutlak, karena UUPA tetap
             memberikan prioritas fungsi sosial pada hak-hak atas tanah yang ditetapkan pada Pasal 6
             menyebutkan “Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”. Prinsip “fungsi sosial hak

             atas  tanah”  menghendaki  keseimbangan  antara  kepentingan  pribadi  dengan  kepentingan
             umum. Dalam hal ini, hak atas tanah yang ada pada seseorang tidaklah dapat dibenarkan,
             jika tanahnya akan dipergunakan atau tidak dipergunakan semata-mata untuk kepentingan
             pribadinya,  melainkan  wajib  pula  mempertimbangkan  kepentingan  umum.  Itu  pula

             sebabnya dinyatakan dalam Pasal 18 UUPA bahwa jika untuk kepentingan umum, termasuk
             kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah
             dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur
             dengan Undang-undang.

                  Ketentuan tersebut tidak pula berarti bahwa kepentingan pribadi akan terdesak sama
             sekali oleh kepentingan umum, hal ini dinyatakan dalam Penjelasan Umum II angka 4 UUPA
             bahwa  “penggunaan  tanah  harus  disesuaikan  dengan  keadaan  dan  sifat  haknya  sehingga

             bermanfaat bagi kesejahteraan dan kebahagiaan pemilik sekaligus masyarakat dan negara.
             Ketentuan tersebut tidak berarti kepentingan perseorangan akan terdesak sama sekali oleh
             kepentingan umum, UUPA juga memperhatikan kepentingan perseorangan. Kepentingan
             masyarakat dan kepentingan perseorangan harus saling mengimbangi hingga tercapainya

             tujuan  pokok,  yaitu  kemakmuran,  keadilan  dan  kebahagiaan  bagi  rakyat  seluruhnya”.
             Dengan demikian dalam pelaksanaan pengadaan tanah secara langsung, pemberian “ganti
             rugi” akan menjadi Titik taut antara kepentingan umum dengan kepentingan privat, oleh
             karenanya  ganti  rugi  yang  diberikan  kepada  pemegang  hak  atas  tanah  harus  dirasakan

             sebagai “ganti rugi yang layak dan adil” hingga akhirnya akan tercapai tujuan pokok yaitu
             kemakmuran, keadilan dan kebahagiaan rakyat seluruhnya.


             2.  Paradigma Baru Pengadaan Tanah Secara Langsung Untuk Pembangunan
                Kepentingan Umum
                  Pengadaan  tanah  adalah  kegiatan  menyediakan  tanah  dengan  cara  memberi  ganti
             kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak (Pasal 1 angka 2 UU No.2 Tahun 2012).

             Di  dalam  pengadaan  tanah  terdapat  dua  pihak  yang  terlibat  yaitu  “instansi  pemerintah”
             seperti lembaga negara, kementerian dan lembaga pemerintah nonkementerian, pemerintah
             provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan Badan Hukum Milik Negara/Badan Usaha Milik

             Negara yang mendapat penugasan khusus Pemerintah, dengan “Pihak yang Berhak” adalah
             pihak yang menguasai atau memiliki objek pengadaan tanah.
   355   356   357   358   359   360   361   362   363   364   365