Page 357 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 357

Nia Kurniati: Asas Kebebasan Berkontrak pada Pengadaan Tanah Secara Langsung ...     349


             sumber APBN atau APBD seringkali dibiayai dari dana pinjaman luar negeri. Hal ini tentunya
             harus  dihindari  agar  kegiatan  pembangunan  berjalan  lancar,  kesejahteraan  rakyat  dapat
             tercapai dan pemerintah tidak menanggung kerugian.
                  Sulitnya mencapai kesepakatan menentukan nilai ganti rugi merupakan suatu hal wajar

             mengingat  tanah  mempunyai  beragam  nilai  bagi  pemiliknya  seperti  nilai  ekonomi,  nilai
             social, nilai budaya, dan bahkan nilai magis religious, dan nilai hukum. Hukum memberi
             perlindungan terhadap hak milik tersurat dalam UUD 1945 Pasal 28 H ayat (4) bahwa : “Setiap

             orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil
             alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun” . Demikian dinyatakan pula dalam Pasal 28
             G ayat (1) bahwa “Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
             martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan

             perlindungan  dari  ancaman  ketakutan  untuk  berbuat  atau  tidak  berbuat  sesuatu  yang
             merupakan hak asasi”.
                  Pada pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum terjadi tarik menarik antara
             kepentingan  umum  dan  kepentingan  pribadi  terhadap  tanah.  Namun  keduanya  telah

             diakomodir oleh hukum yaitu Undang-Undang No.2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah
             Untuk Pembangunan Kepentingan Umum beserta peraturan pelaksanaannya yang terdapat
             dalam  Peraturan  Presiden  No.  71  Tahun  2012  tentang Penyelenggaraan  Pengadaan  Tanah

             Untuk Pembangunan Kepentingan Umum yang telah mengalami perubahan beberapa kali
             yaitu  diantaranya  dengan  Peraturan  Presiden  No.40  Tahun 2014  tentang  Perubahan  Atas
             Perpres No.71 Tahun 2012.
                  Dalam  rangka  efisiensi  dan  efektifitas,  “pengadaan  tanah  untuk  Kepentingan  Umum

             yang luasnya tidak lebih dari 5 (lima) hektar, dapat dilakukan langsung oleh Instansi yang
             memerlukan tanah dengan para pemegang hak atas tanah, melalui cara jual beli atau tukar
             menukar atau cara lain yang disepakati kedua belah pihak”, demikian disebut dalam Pasal 121
             Perpres No.40 Tahun 2014. Terbitnya kebijakan pengadaan tanah secara langsung ini telah

             memberi kemudahan bagi instansi pemerintah yang memerlukan tanah kurang dari 5 Hektar
             (Ha) melaksanakannya tanpa melalui formalitas tahapan pengadaan tanah yang terdiri dari
             tahap perencanaan, tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap penyerahan hasil sebagai-

             mana diatur oleh Pasal 13 UU No.2 Tahun 2012. Pengadaan tanah secara langsung ini dilaku-
             kan melalui jual beli, tukar menukar, cara lain yang disepakati. Aturan hukum mengenai Jual
             beli dan Tukar Menukar terdapat dalam Buku III KUHPerdata.
                  Salah satu asas hukum perjanjian yang dianut Buku III KUHPerdata, yaitu asas kebe-

             basan berkontrak, menyatakan bahwa setiap orang pada dasarnya boleh membuat kontrak
             (perjanjian) yang berisi dan macam apapun asal tidak bertentangan dengan undang-undang,
                                               1
             kesusilaan dan ketertiban umum . Ketika instansi Pemerintah memilih cara jual beli tukar
             menukar, cara lain yang disepakati dalam rangka mendapatkan tanah melalui pengadaan

                1   Subekti, Hukum Perjanjian, Penerbit Intermasa, Jakarta, Cetakan VI, 1979, hlm.13.
   352   353   354   355   356   357   358   359   360   361   362