Page 358 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 358

350    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya



             tanah secara langsung untuk pembangunan kepentingan umum, sapatutnya para pihak yang
             bersangkutan mempunyai kewenangan untuk menentukan harga tanah berdasarkan kata
             sepakat.  Kata  sepakat  merupakan  salah  satu  syarat  yang  harus  dipenuhi  untuk  sahnya
             perjanjian (Pasal 1320).

                  Kata sepakat untuk menentukan harga tanah pada jual beli atau tukar menukar dapat
             merujuk pada beberapa pilihan, yaitu Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), hasil penilaian “penilai
             publik” atau appraisal, dan Zona Nilai Tanah (ZNT). Untuk menentukan harga tanah undang-

             undang  menentukan:  menggunakan  lembaga  jasa  penilai  atau  penilai  publik  (appraisal)
             untuk menghindari terjadinya “kemahalan harga” mengingat sumber pendanaan pengadaan
             tanah secara langsung bersumber pada keuangan negara atau keuangan Daerah (APBN atau
             APBD).

                  Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa aturan pengadaan tanah secara
             langsung cukup menarik untuk dikaji. Dalam hal ini yaitu Perpres No.40 Tahun 2014 Pasal
             121 menyebutkan: “Dalam rangka efisiensi dan efektifitas, pengadaan tanah untuk Kepen-
             tingan Umum yang luasnya tidak lebih dari 5 (lima) hektar, dapat dilakukan langsung oleh

             Instansi yang memerlukan tanah dengan para pemegang hak atas tanah, dengan cara jual beli
             atau  tukar  menukar  atau  cara  lain  yang  disepakati  kedua  belah  pihak”.  Demikian  pula
             Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional No.5 Tahun 2012 Pasal 53 ayat (3) menyebutkan

             “Pengadaan tanah yang dilakukan secara langsung dapat dilakukan tanpa melalui tahapan
             penyelenggaraan pengadaan tanah yang diatur dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012”.
             Ketentuan  tersebut  menjadi  landasan  hukum  bagi  instansi  pemerintah  menggunakan
             lembaga hukum perdata: jual beli, tukar menukar, atau cara lain yang disepakati bagi penga-

             daan tanah secara langsung asalkan tidak melebihi luas 5 Ha.
                  Paper  ini  dimaksudkan  untuk  mengkaji  penerapan  asas  kebebasan  berkontrak  yang
             dianut  dalam  hukum  perjanjian  terhadap  pelaksanaan  pengadaan  tanah  secara  langsung
             melalui cara jual beli, tukar menukar atau cara lain yang disepakati sebagai implementasi dari

             ketentuan Pasal 121 Peraturan Presiden No.40 Tahun 2014. Demikian ingin mengkaji pene-
             rapan hukum perdata pada penentuan ganti rugi berupa nilai nominal harga tanah yang
             ditetapkan berdasarkan musyawarah antara pemerintah dengan pemegang hak atas tanah

             berdasarkan prinsip-prinsip dalam hukum perjanjian.

             B. Hasil Pembahasan
             1.  Pengadaan Tanah Secara Langsung Untuk Pembangunan Kepentingan Umum

                  Menurut Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2015 Pasal 121 jo Peraturan Kepala Badan
             Pertanahan Nasional No.5 Tahun 2012 Pasal 53 ayat (1), yang telah diubah oleh Peraturan
             Menteri  Agraria  dan  Tata  Ruang/Kepala  Badan  Pertanahan  Nasional  No.6  Tahun  2015,

             menyatakan  bahwa  “dalam  rangka  efisiensi  dan  efektifitas,  pengadaan  tanah  untuk
             Kepentingan Umum yang luasnya tidak lebih dari 5 (lima) hektar, dapat dilakukan langsung
   353   354   355   356   357   358   359   360   361   362   363